Sabtu, 30 Juli 2011

Spirit Of Love (Part XIII)

"Sebenernya gue.." tiba2.. "Narmi.." panggil seorang cowok yang ternyata adalah Bisma.
Aku hanya tersenyum, Bismapun mendekat padaku.
"kamu kemana aja si beb.. Aku khawatir.. Kamu kenapa tadi lari?" raut wajah Bisma terlihat sangat cemas.
"gapapa.. Pengen.." aku bingung harus menjawab apa.
"pengen curhat2an aja sama gue , jadi cari tempat yg enak.." ucap Yolana, membela ku.
"oh.. Ngagetin aja si kamu.. Uhuk Uhuk.." tiba2 Bisma batuk2, dan ia memegang kepalanya.
"kamu kenapa beb?" tanyaku yang mulai panik.
"gapapa kok.. cuma agak pusing.." jawab Bisma.
"yaudah kita balik ke villa aja.." ajak Yolana.
Aku mencoba melihat jam, ternyata ini adalah jam minum obatnya Bisma.
"pasti kamu belum minum obat.. kamu inget ga si apa kata dokter? Kamu ga boleh telat minum obat!" raut wajahku terlihat sangat panik sekarang.
"iya, maaf.. Kamu nguping ya waktu dirumah sakit? Tapi makasih yah udah khawatirin dan peduliin aku.." ucap Bisma yang langsung menggenggam tanganku.
"iya.." ucapku sambil membalas genggaman tangannya.
"yaudah yuk balik.." ucap Yolana yg menarikku, hingga genggaman tangan Bisma padaku terlepas.
Sepertinya Yolana tidak menyukai Bisma..
Dalam 10menit, kami (aku, Bisma dan Yolana) telah sampai di Villa.
"Narmi kemana aja? Kita semua nyariin kamu!" ucap Rangga ketika ia melihatku.
Tiba2 bu Diska menghampiriku dan memelukku.
"ibu teh khawatir sama kamu nak.. Maafin ibu yah kalo punya salah sama kamu" ucap Bu Diska.
"ibu.. Ibu gak salah apa2.. tadi tuh aku cuma lagi mau curhat2 aja sama Yola.. Gak ada apa2 kok bu.. Maaf ya aku buat ibu khawatir.." ucapku pada Bu Diska.
"tau tuh.. Mama khawatir banget.." sambung Saskia.
"ada yg ngiri ni.." ledek Rafael yang mencubit pipi Saskia.
"apaan sih kamu.. Sakit.." ucap Saskia sambil mengusap pipi yang tadi dicubit Rafael.
"Uhuk Uhuk.. Uhuk.. Ahk.." Bisma berlari ke Dapur.
"Bisma.." Reza mengejar Bisma.
Yang lainnyapun ikut menghampiri Bisma, sementara aku berlari keluar untuk mencari tas Bisma.
Ternyata benar, tas Bisma masih Di teras Villa.
Aku langsung mengambil dan membuka tas itu untuk mencari obat Bisma.
Setelah membongkar habis2an, akhirnya aku menemukan obatnya.
Aku langsung berlari menuju dapur untuk memberikan obat itu pada Bisma.
"ini.. Cepet minum.." aku menyerahkan obatnya pada Bisma, sementara Morgan mengambil air minum lalu memberikannya pada Bisma.
Setelah minum obat, Bu Diska, Saskia dan Rafael mengantar Bisma ke kamar.
Sementara Morgan dan Reza membersihkan bercakan darah yang keluar saat Bisma batuk tadi.
Aku bernafas lega setelah semuanya selesai. Aku keluar dan duduk dibangku teras untuk menenangkan diri.
"kamu hebat bgt tadi.. Punya inisiatif buat ngelakuin hal tadi.." ucap seorang cowok yang tiba2 menghampiriku diteras.
"eh.. hm.. itu cuma karna aku sempet denger omongan dokter.. Kalo Bisma ga boleh telat minum obat.." jelasku.
"tapi tadi kamu keliatan khawatir banget.." pancing Reza.
"Za! Udah lah STOP! Berenti mancing2 aku dengan pertanyaan kamu! Percuma Za.. Aku sayangnya sama kamu! Jadi tolong berhenti pancing emosi aku dan berenti nyakitin perasaan kamu sendiri!" bentakku pada Reza.
"tapi aku udah punya.." belum selesai Reza bicara, aku memotong "Yola? Kamu punya Yola? Emang kamu kira aku gatau rencana kamu? Yola udah cerita semuanya! Kamu mau apa si sebenernya ngelakuin ini?" aku mulai menatap wajah Reza.
‎"aku.. cuma mau mulai ngejauh dari kamu.. dan buat kamu ngejauh dari aku.. Dan lupain semua tentang kita.." ucap Reza yang tertunduk.
Aku berjalan kearah Reza dan "PLAK" aku menampar Reza.
"kamu pikir segampang itu? Kamu pikir kamu bisa gitu aja numbalin aku ke Bisma? Jahat yah! Gua kecewa sama lo!" bentakku tiba2 yang emosi, sehingga berbicara kasar.
Aku berlari hendak masuk ke dalam, tiba2 Reza menarikku.
"aku mohon ngertiin aku.." ucap Reza.
"ngertiin apa lagi? kamu yang ga ngertiin aku!" bentakku.
"aku gasanggup liat kamu dan Bisma, aku ga rela ngelepas kamu buat Bisma, aku ga sekuat yang kamu kira.." Reza melepaskan genggaman tangannya.
"kalo kamu gakuat, ga rela dan ga bisa.. Yah kita tinggal jujur aja sama Bisma.." aku mendekat pada Reza.
"nggak Mi.. Bisma udah sayang sama kamu.. Mau ga mau aku harus relain kamu.. Lupain kamu.." Reza ambruk duduk dilantai.
‎"Za.. Kamu jangan paksain diri kamu.. Aku tau niat kamu baik.. Dan aku tau maksud kamu.." aku memeluk Reza.
"tapi aku udah janji sama diri aku sendiri.. Aku akan terus jalanin ini sampe akhir hidup Bisma.. Udah terlalu banyak beban hidup yang Bisma rasain, gamungkin tiba2 kita bilang tentang semuanya.. Itu sama aja kita nambahin bebannya Bisma.." jelas Reza lalu melepas pelukanku.
"tapi Za.. Aku.." belum selesai aku bicara, Reza memotong "aku mau kita putus.." pinta Reza.
Mataku melotot, jantungku terasa tertusuk.. Hatiku terasa sangat sakit.. Hingga airmataku mengalir..
"aku gak mau.. Kamu ngomong apa sih! Aku ga denger!" airmataku terus mengalir dan aku menutup telingaku seoalah tidak mendengar ucapan Reza.
"kita harus ambil keputusan Mi.. Kita gak mungkin selamanya kayak gini, gak mungkin hubungan kita terus ngegantung gini.. Aku gak mau buat kamu memilih, aku gak mau buat kamu tersiksa sama perasaan kamu, dan aku juga gamau tersiksa sama rasa cemburu ini.. Kalo kita putus, kamu bisa mulai sayang sama Bisma dengan sepenuh hati, dan aku juga bisa mulai relain kamu karna kita udah gak punya ikatan apapun.." jelas Reza.
Aku terdiam, airmataku terus mengalir.. Aku merasa tak sanggup melepas Reza.. Tapi apa yang dibilang Reza juga bener.. Gak mungkin aku dan Reza terus seperti ini.. Ini gak adil buat aku, tapi ini juga gak adil buat Reza.. Cepat atau lambat kita harus punya keputusan.. Walaupun harus benar2 terasa menyakitkan..
Tapi.. aku juga belum siap kehilangan Reza.. belum siap mengakhiri hubungan ini..
Kenapa semuanya menjadi serumit ini?
Aku tau Rezapun pasti berat untuk melepasku, Rezapun pasti merasakan hal yang sama denganku..
Baru kali ini aku melihat Reza selama ini..
Aku mengusap rambutnya, namun Reza tetap tertunduk menyembunyikan wajahnya.
Apa mungkin Reza sedih? mungkin Reza menangis? Tertekan?
Tapi apa yang harus kulakukan sekarang?
Haruskah aku melepasnya?
Haruskah Hubungan ini berakhir disini?
"Za... apaada jalan keluar lain? aku gabisa Za.. apa kamu yakin mau nyiksa aku dengan perasaan sakit karna kehilangan kamu?" aku berusaha mengangkat wajah Reza, dan ternyata airmata Reza telah jatuh dipipinya.
Reza mengusapnya dan menjawab.. "...."

APA JAWABAN REZA ?
APA YANG TERJADI SELANJUTNYA ?
BAGAIMANA KELANJUTAN HUBUNGAN REZA DAN NARMI ?

TUNGGU DI PART SELANJUTNYA :))

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK TERUTAMA CORET2AN KOMENTAR KALIAN :D

*NISNIS*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar