Rabu, 20 Juli 2011

Cinta Rujak Bebek (Last Part)

Cinta Rujak Bebek (Last Part)

oleh * Penggemar Cerpen dan Cerbung NisNis * pada 18 Juli 2011 jam 19:59
wehehehe ayooo lanjutt di Last Part :D
agak panjang yaa :p

"kalo kamu terima aku, aku cobain rujak bebek ini, tapi kalo kamu nolak aku, lempar rujak ini kemana aja, ke muka aku juga boleh" ledek Zehan.
Tanpa pikir panjang, aku melahap rujak bebek itu.
"daripada dibuang mending di makan!" ucapku tersenyum malu.
"jadi kamu mau?" tanya Zehan meyakinkan.
"nuhun kang Zehan.." ucapku sambil melahap rujak itu.
Tiba2 Zehan menyembunyikan rujak itu dibalik punggungnya.
"Lho? Kan masi mau!" ucapku kesal.
"boleh aku peluk kamu?" tanya Zehan.
"gak boleh.." ucapku ketus.
Namun aku langsung memeluk Zehan dan berkata "aku aja yang meluk kamu.." ucap ku sambil memeluk Zehan. Zehan pun membalas pelukan ku dengan satu tangan, karna tangan satunya masih megang rujak bebek itu.
Saat sedang menikmati kemesraan ini, aku mengambil rujak bebek itu lalu berlari.
"rujaknya ditanganku!" teriakku sambil berlari.
"ikh.. Dasar Ranis! Awasnya ketangkep aku peluk lagi!" ucap Zehan sambil mengejarku.
Karna aku berlari sambil makan rujak, akupun terkejar oleh Zehan, Zehan berhasil menangkap dan memelukku dari belakang.
Kami berdua terdiam sesaat, masih dengan posisi yang sama, Zehan mengucapkan kata2 yang tidak akan pernah aku lupakan.
"Jangan pernah lari dari aku ya.." ucap Zehan sambil memelukku makin erat dari belakang.
"gak akan.. karna kamu cinta terakhir aku.." ucapku sambil menggengam tangannya yg memelukku dari belakang.
"lho rujaknya mana? Kan td sama kamu" tanya Zehan yg kaget karna aku menggenggam tangannya yg memelukku.
"udah abis.. Haha.." ucapku gugup karna masih berada dalam pelukan Zehan.
"huu dasar gembul.. " ucap Zehan sambil menyusupkan kepalanya dibahuku.
"kamu tau ga rasanya dipeluk kamu?" ucapku pada Zehan.
"hmm? Apa?" tanya Zehan.
‎"nyaman.." ucapku sambil mempererat dekapanku.
"oya.. Kamu mau tau pesan dia ke aku apa?" tanya Zehan.
"Eza?" kali ini nada suaraku datar. Karna aku tak tau ekspresi apa yg harus ku tunjukan, senang tak mungkin, rasa sedihpun tak boleh ku tunjukkan.
"iya.. Pertama kali dia itu tanya aku pacar kamu apa bukan, yah aku jawab jujur kan.. Trus dia minta aku gantiin posisi dia.. Yah aku bilang aja kalo gantiin posisi dia ga mungkin, tapi kalo buat gantiin dia jagain kamu, nyayangin kamu dan selalu nemenin kamu aku bisa.." Zehan bercerita secara perlahan.
"terus ekspresi dia gimana? Dia bilang apa?" tanyaku bersemangat.
"dia cuma senyum.. Yang bikin aku kaget.. Waktu dia bilang aku boleh ambil apapun barang dia yang aku mau.. Tadinya dia ngasih mobilnya ke aku, tapi aku ga pantes dapetin itu, aku juga ga bisa nyetir mobil, makanya aku pilih motor itu.. Kamu tau ga alesan dia nyuruh aku lakuin itu apa?" tanya Zehan.
"apa?" aku makin penasaran.
"karna dia mau buat kamu nyaman sama aku, dia bilang, kalo lo nemeninnya pake vespa butut, dia ga bakal nyaman.. Mending lo ambil motor atau mobil gue. Anggep aja ni titipan gue buat Ranis, jadi lo gaperlu sungkan.." Zehan bercerita menirukan nada bicara Eza.
"hahaha.. Dia emang ga pernah berubah.. Pemaksa.." ucapku sambil menahan airmataku.
"yang terakhir.. Dia mau aku menghapus kesedihan kamu setelag kehilangan dia.." ucap Zehan sambil mempererat pelukannya.
Aku terdiam dan berfikir sejenak. Apa aku mampu?
Apa aku bisa setegar itu?
"oya.. Eza pernah bilang.. Andai aja gue masih ada waktu, gue pengen nyobain rujak buatan lo yang bikin Ranis naksir sama lo.. Aku tuh malah ketawa ngedengernya.. Hahaha" tubuh Zehan berguncang saat ia tertawa.
Aku melepaskan pelukan Zehan.
Dan membalikan tubuhku lalu menatap wajahnya tajam.
"emang kamu gatau aku naksir kamu karna rujak bebek? Tapi kenapa Eza tau kamu tukang rujak bebek?" aku semakin bingung.
"kamu inget waktu kamu belajar bikin rujak bebek dirumah aku?" tanya Zehan berusaha mengingatkan.
"iya.. Kenapa?" keningku mengkerut karna aku semakin bingung.
"dia juga dirumah aku, dia ngikutin kamu dari rumah kamu sampe kamu ke rumah aku, dia bilang karna penasaran waktu itu" jelas Zehan.
Apa? Jadi Eza sampe segitunya? Pantas saja tak lama Zehan pulang dari rumahku, Eza sudah ada dirumah..
Aku jatuh duduk.. Airmataku mengalir.. Sebesar itukah perasaannya..
Zehan ikut duduk dan mendekapku.
"dia sayang banget sama kamu Nis.. Aku bisa liat itu dari tatapan matanya.." ucap Zehan.
Aku terdiam menghapus airmataku lalu bersandar pada bahu Zehan.
"makanya kamu jangan sedih.. Kamu gamau kan dia ikut sedih?" Zehan mengangkat wajahku dan menatapnya tajam.
"jadi kamu harus kuat ya.." ucap Zehan mencium keningku.
Oh waw.. Jantungku langsung ngadain konser dag dig dug dhuer sangkit aku gugupnya.
Aku hanya tersenyum malu.
"tapi kok bisa ya kamu naksir aku karna rujak bebek?" tanya Zehan genit.
"ihh.. Gatau ah.." aku sangat malu untuk mengungkapkannya.
"oya.. kamu percaya gak.. Kalo orang yang udah ga ada, dia jadi salah 1 bintang dilangit?" tanyaku pada Zehan.
"aku percaya aja kalo kamu yang ngomong.." Zehan menjawab dengan senyum menggoda.
"ihh.. Aku serius! Aku yakin Eza lagi ngawasin kita.. Dia menyatu dalam bintang2 dilangit.." ucapku sambil menatap bintang2.
"oh ya.. Menurut kamu yang mana?" tanya Zehan.
"hmm.. Itu..!" aku menunjuk ke salah satu bintang yang paling terang menurutku.
"salah deh kyaknya.." ucap Zehan.
"lho.. Emang kamu tau yang mana?!" ekspresi wajahku ngotot kali ini.
"hmm.. Disini.." ucap Zehan sambil menunjuk pada hatiku.
"dia akan selalu jadi bintang yg paling terang dihati kamu Nis, Dia bintang abadi disana.." Zehan tersenyum tulus.
Tidakkah dia cemburu?
Tapi dari sorot matanya tak ada tanda2 kalo dia cemburu..
"Han.. Besok mau anter aku ke makam Eza?" aku memasang muka melas.
"biasa aja kali tuh muka! Haha.." ucap Zehan sambil meqemuk mukaku.
"ikh Aa.. Serius!" ucapku sedikit merayu.
"haha.. Aa cieh.. Iya2 kapanpun kamu mau kesana aku anter.." ucap Zehan sambil mendekapku yang duduk disampingnya.
"tapi aku punya 1 permintaan lagi.." ucapku sambil menyandarkan kepalaku ke bahu Zehan.
"apa lg geulis?" tanya Zehan dengan mesra.
"aku mau tiap kita kesana, kita bawa rujak bebek dan makan kesana.. yayaya?" aku memohon lg.
"boleh si.. Tapi buat apa?" tanya Zehan bingung.
"penghubung Cinta kita.." ucapku malu2.
"aku kenal dan suka kamu karna rujak bebek, dan kita bersatu karna Eza.. Aku mau mulai besok kita tiap minggu ke makam Eza dan bawa rujak.." ucapku manja.
"boleh juga oke.. kalo di pikir2 iya juga yahh. dia yang buka jalan buat hubungan kita, kalo tanpa dia kita ga mungkin bisa gini, pasti sama2 gengsi.." ucap Zehan sambil memelukku.
Aku kembali memandang Bulan dan Bintang malam itu.
Dan tepat jam 10malam aku diantar pulang kerumah.
Aku langsung ambruk di kasurku.
Mengambil sebuah boneka pemberian Eza dan Diaryku yang biasa ku tulis tentang Eza.

Dear Diary..
ini adalah 1 hari setelah kepergian Eza..
Hari terakhir aku boleh menangisi Eza..
Rasa kehilangan itu sulit di singkirkan, tapi aku akan selalu berusaha untuk nepatin janji aku ke dia..
dan mulai besok, kamu harus berbagi kisah tentang Zehan.. dia memang bukan pengganti Eza, tapi dia pengisi kekosongan hidupku.. hidupku yang terasa kosong dan hampa saat keilangan Eza.. dan kini hari2 baruku akan ku jalani dengan seorang tukang rujak bebek Zehan Ramadhan :)

Dihalaman selanjutnya kutuliskan ungkapan hatiku pada Eza ..

Ateng..
Aku udah bisa ga sedih waktu kehilangan kamu..
Aku gak mau kamu sedih disana, aku mau kamu tenang dan gak terbebani sama kesedihanku..
Aku akan ingat semua pesan kamu, semua kenangan tentang kamu, semuanya..
Kamulah belahan jiwaku Za, sejak dulu, sekarang, dan selamanya..

Zehan bener, kamu akan selalu jadi bintang yg paling terang dihatiku..
Aku bersyukur dan beruntung banget punya kamu..
Karna, saat kamu pergi pun.. Kamu masih memberikan kebahagiaan buat aku..
Aku janji gak akan pernah ngelupain kamu walau aku udah punya Zehan, Karna Zehanpun siap berbagi..

Terimakasih telah menyatukan cinta kami.. Cinta Rujak Bebek..

Eza ♥ Ranis ♥ Zehan
       ♥forever♥


* CINTA RUJAK BEBEK END *

JANGAN LUPA YANG BACA TINGGALKAN JEJAK :))

*NISNIS*

>YANG COPAS HIDUPNYA GA TENANG DUNIA AKHIRAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar