Sabtu, 30 Juli 2011

Spirit Of Love (Part VI)

Spirit Of Love (Part VI)

oleh * Penggemar Cerpen dan Cerbung NisNis * pada 25 Juli 2011 jam 15:53
"aku.."
KREK.. pintu kamar rawat terbuka.
"hey Bis udah bangun?" sapa Reza.
"iya udah.." jawab Bisma dengan senyum khasnya.
"kita bawa makan nih.." ucap Rafael.
Hufth untung aja mereka datang, jadi setidaknya aku bisa mencari dan merundingkan kembali hal ini dengan Reza. Karna aku masih belum tau apa yang harus aku jawab, aku masih belum siap.
"Mi, kok bengong?" tanya Reza.
"eh gapapa, cuma laper aja, Za anter ke Toilet yuk, aku gatau.." pintaku sambil melotot pada Reza.
"eh iya.. Bentar yah, kalian makan aja duluan" ucap Reza pada Rafael dan Bisma.
"oke.." jawab Rafael, sementara Bisma hanya mengangguk dan tersenyum.
Akupun menarik Reza keluar dan berhenti di lorong rumah sakit.
"lho? Katanya mau ke toilet? Kok berenti disini?" tanya Reza yang bingung.
"aku mau minta kepastian sama kamu! Aku udah capek sama sandiwara ini! Kalo kita nyembunyiin kenyataan ini terus, nantinya Bisma pasti sakit hati yang! Kamu pikir juga dong resiko dari rencana kamu!" ucapku penuh emosi.
"Bisma ga boleh dan gak akan tau.. Aku udah jelasin semua ke temen2, ade dan mama Bisma, mereka setuju.." ucap Reza memalingkan wajahnya.
"aku tau, kamu juga ga sanggup kan jalanin sandiwara ini.. Jujur yang sama aku!" ucapku sambil menarik wajah Reza kembali berhadapan denganku.
"aku emang ga sanggup, tapi aku cuma mau berbagi kebahagiaan, 6bulan aku jalanin hari2 aku sama kamu, dan aku Bahagia, apa salah aku berbagi kebahagiaan itu walau cuma 2 bulan?" ungkap Reza sambil menjauh dariku.
"apa kamu ga takut kehilangan aku? Apa kamu ga takut aku berpaling ke Bisma? Apa kamu udah pikirin tentang semua resiko yang akan kamu terima?" ucapku mendekat pada Reza.
"aku siap.." ucap Reza sambil menyembunyikan wajahnya ditelapak tangannya.
"gak mungkin! Apa sih yang buat kamu sampe kayak gini Za? Atas dasar apa kamu rela berkorban ampe kayak gini? Aku curiga.. Apa jangan2 ini cuma.." aku belum selesai bicara, namun Reza sudah memahami maksudku.
"ini cuma taktik aku buat ngelepas kamu? Buat jauh dari kamu? Iya?" Reza mulai terlihat emosi.
"aku.. aku.. Maafin aku yang.." ucapku memeluk Reza.
"kamu boleh berfikir apapun tentang aku.. Tapi jangan pernah berfikiran buruk tentang aku, kamu bilang aku tablo, culun, bodoh, dongopun aku terima! Tapi kalo soal hati, aku gapernah ada niat buruk! Aku tulus jalanin hubungan sama kamu selama ini.. Seburuk-buruknya aku, aku itu masih punya hati! Yang cuma buat kamu!" ucap Reza sambil berusaha menahan emosinya.
"yang.. Aku minta maaf.." aku memeluk Reza semakin erat, namun Reza tak kunjung membalas pelukanku.
 ‎"aku pernah ngerasain kehilangan orang yang aku sayang sebelum aku sempet bahagiain orang itu" sambung Reza.
aku melepaskan pelukanku lalu bertanya "oh ya? siapa yang?" tanyaku.
"almarhum ibu kandung aku.." jawab Reza lirih.
"yaannggg maafin aku.. aku.." belum selesain aku bicara, Reza memelukku.
"gapapa.. sekarang kamu udah tau kan alesan aku.. mama aku juga punya penyakit yang hampir sama, tapi mama leukimia. aku gamau ngerasain rasa bersalah yang sama.. aku mohon kamu ngerti." ucap Reza.
"oya tadi Bisma nanya sesuatu ke aku.." ucapku masih ragu.
"tanya apa?" tanya Reza dengan antusias.
"dia tanya, aku udah punya pacar apa belum.. Aku bingung Za harus jujur atau bohong sesuai rencana kamu.. Rasanya aku gak sanggup buat bohong sama dia, aku juga gasanggup kalo harus jujur.. Aku bingung yang!" ucapku kesal sendiri.
"yah kan kamu udah setuju sama rencana aku, jadi jawab dan lakuin aja sesuai rencana.." ucap Reza enteng.
"apa? Kamu pikir itu ga nyiksa hati aku? Sadar ga si yang kalo kamu kaya gini sama aja kamu tumbalin aku buat Bisma! Tega ya kamu.. Ngertilah dikit perasaan aku.. Walaupun kamu bilang kamu ga akan pacaran waktu aku
sama Bisma, aku tau kamu pasti juga ga kuat kan jalanin ini.. aku masih mikirin perasaan kamu, tapi kamu?" aku mulai emosi lagi.
"aku kuat kalo kamu kuat, aku sanggup kalo kamu sanggup, aku yakin kita bisa.." ucap Reza.
Aku terdiam, perasaan bimbang menghantuiku.
"tenang aja, kita gak putus, cuma break.. dan kamu gausah ragu kalo kamu mulai suka Bisma.. Aku bisa terima kok.." Reza memelukku dan membelai rambutku.
"tapi janji yah jangan pernah tinggalin aku.." ucapku sambil membalas pelukannya.
"yaudah sekarang kita makan.. jangan nangis ah.. Cantiknya ilang nanti.." ledek Reza sambil menghapus airmataku yg jatuh di pipi.
"love you.." ucapku sambil menatap matanya.
"love u too sweetheart.." Reza mencium keningku, lalu kamipun berjalan kembali ke kamar rawat, Reza masih menggandengku.. Namun setelah didepan kamar dan hendak masuk, Reza melepaskan genggaman tangannya.
Dikamar Bisma dan Rafael sedang makan, dan akupun kembali duduk disisi Bisma.
‎"hey Mi, lama amat? Tuh makan, nanti keburu dingin" ucap Bisma.
Aku memandangnya sesaat, dan ini benar2 buatku kagum! Bisma terlihat begitu tenang bahkan ceria..
"iya.." jawabku singkat.
Setelah makan, Reza minta Rafael mengantarnya mencari cemilan. Aku tau ini pasti bagian dari rencana Reza supaya aku bisa berduaan sama Bisma.
"Bis kita tinggal dulu ya, si Eja ni rese.. Cari cemilan aja ribet.." ucap Rafael yg mulai terlihat Bete.
"haha sory ya Bis.. Yuk Raf.." ucap Reza sambil menarik Rafael.
Akhirnya merekapun pergi lagi. Aku yakin ini juga salah satu rencana Reza supaya aku bisa berdua Bisma!
Entah mengapa aku selalu gugup saat aku menghadapi situasi ini.. Jantungku berdegup cepat, suhu tubuhku memanas hingga peluh terasa menetes dari dahiku.
Aku tak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Lama kami berdiam, sampai akhirnya Bisma membuka pembicaraan.
"kamu punya masalah berat ya?" pertanyaan Bisma yg secara tiba2 itu membuat aku kaget. Apa dia bisa membaca apa yang kurasa dari sikapku dan tingkahku yg aneh sejak tadi?
"nggak kok.. cuma bingung aja mau ngajak kamu ngobrol apa.." jawabku berusaha mencari alasan.
Tapi memang benar, karna aku belum terbiasa dekat dengan Bisma, jadi aku merasa asing dan aneh hingga membuatku merasa gugup.
"oh.. Gimana kalo jawab pertanyaanku yang tadi aja?" ucap Bisma.
"Pertanyaan apa ya?" tanyaku pura2 bego dengan tampang melongo.
Aku langsung mengalihkan pandanganku ke langit2. Untuk menutupi wajahku yang pasti sedang terlihat bodoh karna canggung.
"yah.. Kamu udah punya pacar apa belum?" tanya Bisma tanpa Basa-basi.
"Belum kenapa?" tanyaku balik secara spontan.
"Mau jadi pacar aku?" ucapan Bisma terdengar sangat mantap.
 Namun lagi-lagi aku ragu untuk menjawab, hingga aku merasa kerongkonganku kerik, leherkupun terasa tercekik hinga aku sulit untuk bicara.
"Narmi..? Kamu udah punya pacar apa belum?" tanya Bisma sekali lagi.
"belum.." jawabku singkat.
"masa?" tanya Bisma yang seolah tak percaya dengan jawabanku.
"iya Bisma..! Aku belum lama putus.." ucapku berbohong.
"oh.. Pantes kamu keliatan Bimbang dan ragu waktu kamu jawab. Maaf ya Narmi." Terlihat jelas dari wajahnya bahwa ia merasa bersalah.
"gapapa kok.. Itu masalalu.." ucapku sambil tersenyum.
"tapi kalo aku minta kamu jadi pacar aku mau ?" raut wajahnya kembali serius.
"aku..

AKU APA YA ?
KIRA-KIRA APA JAWABAN NARMI ?
SIMAK DI PART SELANJUTNYA :))

*NISNIS*

YANG BACA TINGGALKAN JEJAK DAN YANG COPAS HIDUPNYA GA TENANG :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar