Sabtu, 30 Juli 2011

Spirit Of Love (Part V)

"Saskia.." terdengar suara teriakan.
Aku dan Saskia langsung berpaling ke arah suara itu.
Ternyata itu adalah Rafael.
"kenapa A ?" tanya Saskia sambil berjalan menghampiri Rafael.
"ibu pingsan Neng.." raut wajah Rafael terlihat cemas.
"yaudah kita pulang.." ucap Saskia.
"ayo.. Eh tapi yang jaga Bisma siapa?" Rafael memperhatikan aku.
"aku aja.. Kalian urus ibu" ucapku spontan.
"makasih yah kak.." ucap Saskia sambil menghapus airmatanya lalu berlari pergi bersama Rafael.
Hufth.. Kenapa aku bicara enteng begitu? Kenapa tiba2 aku mau menjaga Bisma? Apa hati aku mulai tersentuh? Entahlah.. Tapi bagaimana jika Bisma tiba2 batuk darah, dan aku jadi pingsan melihatnya? Siapa yg menjaga dan merawat Bisma? Lalu nasibku ?
"Engga Engga Engga" aku menggelengkan kepala.
"aku ga boleh berfikir macem2! Daripada pikiranku makin kacau, lebih baik aku menemui Bisma.. Tapi.. Ahh.." aku terus berbicara pada diriku sendiri, melawan pikiran2 kacauku yang negatif. Tapi akhirnya kuputuskan untuk menemui Bisma.
Akupun memasuki kamara rawat itu, dan ternyata Bisma sudah sadar, dia terlihat sedang termenung. Awalnya aku ragu untuk menghampirinya, namun aku tak sadar langkah kakiku telah membawaku ke sisinya.
"Narmi.. Sama siapa?" raut wajahnya berubah menjadi tenang bahkan tak ada kegelisahan seperti yang terlihat diwajahnya tadi saat termenung.
"Ini sangat GILA! Aku tak menyangka ada orang seperti Bisma!" pikirku dalam hati.
"Narmi? Kok bengong?" tanya Bisma sekali lg.
"eh gapapa ko.. Ya sama Reza lah, sama siapa lg.." jawabku gugup.
"oh.. Makasih yah.." ucap Bisma tiba2.
"makasih? Buat apa?" aku mulai bingung.
"Makasih udah mau jenguk aku.." ucap Bisma.
"oh.. kirain kenapa.. trus gmana keadaan kamu sekarang?" aku berusaha memandang bola mata dan wajahnya untuk mencari tahu sendiri jawabannya. Karna aku tau bisma adalah orang yang pandai menyembunyikan segala hal.
"aku gapapa kok.. kalian aja terlalu khawatir.. aku cuma batuk ampe dibawa ke dokter.." ucap Bisma berusaha riang.
Dan dugaanku
benar.. Lagi2 Bisma berpura2 seakan ia tidak apa2, padahal gak cuma dia yang tau bahwa penyakitnya parah, aku sungguh kagum pada Bisma.
"kak.. Aku boleh tanya?" aku berusaha memberanikan diri untuk bertanya.
‎"hem? boleh, tanya apa? Tapi jangan panggil kakak ah.. Bisma aja.." Bisma mdnjawab pertanyaanku dengan tenang dan melemparkan sebuah senyuman padaku.
"apa sih yang buat kakamu bisa sekuat dan setegar ini? Aku.. Kagum sama kamu.." ucapku dengan ragu2, aku takut melukai hatinya.
"lho kenapa tiba2 tanya gitu?" ucap Bisma bingung.
"jujur yah, aku merasa kagum aja sama kamu.. kamu ga perlu sembunyiin tentang penyakit kamu, karna aku udah tau Bis.. Entah kenapa aku kagum sama kamu.. Aku mau tau apa yang buat kamu setegar dan sekuat ini, yang buat kamu bertahan sampe saat ini.. Maav kalo pertanyaan aku..." Bisma memotong "sstt.. aku gapapa kok.. udah biasa mereka tanya itu.. Jawaban aku cuma 1... Bersyukur.." ucap Bisma sambil tersenyum.
Aku hanya mengkerutkan keningku karna masih bingung.
‎"yah.. kuncinya cuma bersyukur. Bersyukur atas segala yang Tuhan beri kita, walaupun Tuhan berikan kita penyakit yang parah atau bahkan mematikan. Tuhan pasti punya maksud dan kehendak lain. Lagi juga, masih banyak orang yang jauh lebih kurang beruntung. Jadi buat apa dipikirin kalo cuma hanya nyiksa batin? Mending dijalanin, nikmatin sisa hidup yang udah ditakdirkan. Toh semua udah punya jalan takdir masing2, ga mungkin kita bisa menolak takdir.. Ya kan ?" jelas Bisma masih dengan raut wajah tenang. Tidak ada sedikitpun pancaran kecemasan atau bahkan ketakutan dari raut wajahnya. Padahal aku yang hanya mendengarnya saja sudah berkaca-kaca dan siap meneteskan airmata.
Terkadang, aku yang masih di beri sehat saja masih merasa kurang bersyukur bahkan selalu ingin lebih. Kalau di bandingkan aku dan Bisma, mungkin yang pantas hidup itu Bisma. Tapi mengapa orang seperti Bisma yang mengalaminya? Dia terlalu baik untuk menerima kenyataan pahit ini.
"Narmi?" panggil Bisma.
"hah? Aduh maaf malah aku yang jadi terharu.." ucapku sambil menghapus airmataku yang akhirnya mengalir.
"oh.. Yah gausah dipikirin lah.. Boleh gak gantian sekarang aku yang tanya?" tanya Bisma dengan raut wajah serius.
"boleh.. Mau tanya apa?" entah kenapa aku mulai deg degan, debaran jantungku terasa dipercepat.
"kamu udah punya pacar?" tanya Bisma.
Aku tersentak kaget, mataku langsung melotot, detak jantungku terasa berhenti. Aku harus jawab apa? Berbohong atau jujur ?
"aku..

AKU APA YAA ?
KIRA2 NARMI JAWAB APA ?
PENASARAN ?
SIMAK DI PART 6 :))

YANG BACA NINGGALIN JEJAK , YANG COPAS TANGGUNG DOSANYA :p

*NISNIS*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar