Sabtu, 30 Juli 2011

Spirit Of Love (Part II)



"Bisma itu.. Punya penyakit kanker otak stadium akhir yang.. Dia suka sama kamu.. Dia bilang dia pengen banget ketemu kamu.. Makanya aku bawa kamu ampe sini.. Dia.. Dia gak lama lagi hidupnya yang.. Aku mau kamu nemenin dia sampe ajalnya.. Aku mau kamu pacaran sama dia.." mata reza terlihat berkaca-kaca. Dia menarik nafas panjang berusaha menahan airmatanya.
"kamu GILA! Emang aku barang bisa kamu kasih? Emang aku bola bisa kamu oper? Dan emang kamu pikir cinta itu mainan hingga seenaknya kamu paksa aku buat pacaran sama orang yang gak aku kenal? Pikir yang!" emosiku memuncak.
"kamu yang harusnya pikir baik2.. Andai kamu punya sahabat yang udah kamu anggep kakak sendiri, hidupnya gak lama lagi.. Dan.. Orang itu udah hampir gapunya semangat hidup lagi.. Apa yang kamu lakuin sebagai sahabat? Bahagia diatas derita dia? Gak berusaha nyemangatin atau sekedar memberi harapan hidup buat dia? Jawab Yang.." raut wajah Reza sangat serius.
"tapi gak gini caranya yang! Kamu bisa cariin cewek buat dia.." aku bertsaha memberikan cara lain.
"semua cewek yang jadi pacar dia selalu ninggalin dia karna penyakitnya, dia hampir putus asa buat cari cewek lagi, ditambah dokter memfonis.. Hidup dia tinggal 2 bulan lg.. Tapi saat lihat foto kamu, aku ngeliat senyum yang gak biasa.. Senyum yg bener2 dari hatinya.. Aku yakin, kamu bisa jadi semangat hidup dia.." Reza menggenggam tanganku dan menatap mataku penuh harap.
"tapi aku sayangnya sama kamu.. Aku cinta kamu Za.. Aku gak bisa kalo bukan kamu.." aku memeluk Reza. Sungguh aku tak bisa mencintai orang lain selain Reza, enam bulan bukan waktu yg sebentar.. Cinta kami sudah tertanam sejak enambulan, semakin lama semakin mendalam.. Tapi apa harus kandas begitu saja? Ditambah masing2 orangtua kami sudah mengetahui hubungan kami.
"awalnya aku juga berfikir ga akan bisa.. Dan coba kamu pikir dan bayangin beban yang harus aku rasain.. Orang yang kamu sayangin dan bahkan kamu lakuin apapun buat tetap pertahin, harus kamu relain buat sahabat kamu?
Aku juga rasain apa yang kamu rasain.. Aku mau membantu siapapun selama aku bisa bantu.." Reza menjambak rambutnya sendiri, ekspresi wajahnya terlihat bingung.
"walau harus ngorbanin aku?" aku menarik wajah Reza agar bisa menatap wajahku.
"plis.. kamu coba dulu.. aku janji gak akan pacaran sama siapapun setelah break dari kamu.." Reza menatapku penuh harap.
"oke aku coba.. Tapi semua ini demi kamu.. Aku sayang kamu Za.." aku memeluk Eza.
"aku juga.." Eza membalas pelukanku.
"yaudah, kita masuk lagi.. Sebisa mungkin terus sama Bisma oke?" ucap Eza sambil mengusap airmataku.
"oke.." aku dan Rezapun kembali masuk ke dalam dan langsung menghampiri Bisma.
"hey Bis.. Sory yah.. Tadi sepupu gue ngambek gitu.. Yaudah lanjut aja kenalannya, gue mau sapa anak2 yang lain.." ucap Reza sambil menyenggol bahuku.
Akupun duduk disebelah Bisma.
"tadi kenapa kok lari?" Bisma membuka pembicaraan.
"gapapa.. biasa ngambek.. by the way, kok sendirian aja disini? Gak gabung sama yg lain?" aku berusaha untuk berbicara ramah pada Bisma.
"gapapa.. Lg pengen menyendiri aja.." ucap Bisma sambil melemparkan senyuman.
"oh.. Kok menyendiri si? Kenapa emang?" ucapku sambil memperhatikan wajahnya yang pucat.
"yah gapapa.. Oya.. Masi sekolah ?" ucap Bisma sambil memegang kepalanya.
"iya masih kelas 1 SMA.." jawabku.
"oh.. 1sekolah sama Reza?" kali ini Bisma terlihat gelisah.
"iya.. eh kamu kenapa? Sakit? Mau aku bantu?" ucapku yang mulai khawatir melihat kondisi Bisma.
"gapapa kok.. Uhuk.. Uhuk.. Ukh.. Agh.." darah keluar dari mulut Bisma saat ia sedang sibuk merogoh tasnya.. Darah itu tumpah dilantai.
Mukaku langsung ikut pucat melihat darah itu, karna aku phobia darah.
Reza langsung menghampiriku, sementara Bisma membersihkan darahnya dengan tisu.
"Kenapa Mi?" tanya Reza setelah menghampiriku.
"itu Bisma.. Darah.. Itu.." suaraku terputus-putus.
"ga kok Za gapapa, gue cuma batuk.. Terus.. Uhuk uhuk.. Krr.." darah itu keluar lg..
"Bis.. Lo belum minum obat ya? Sini gue bantu.." ucap Reza sambil


ikut membersihkan darah Bisma yg tercecer.
"ikhh.." aku berlari ketoilet.
Aku harus nemenin orang kayak gtu? Gimana pada betah.. Tapi kenapa Reza pengen bgt bantu dia? Apa yg special dari seorang Bisma?
'bip.. bip..'
Reza SMS.

From : SweetHeart
Yang kamu dimana? Aku mau nganter Bisma ke dokter, kamu mau ikut gak?

Ikut apa gak ?
Aku gak mungkin tahan, tapi aku juga penasaran!
Akhirnya aku memutuskan ikut. Aku langsung kembali ke tempat tadi, dan ternyata Bisma sudah Pingsan.
Beberapa anggota dari geng motor itu ikut mengantar Bisma.
"Raf, lo udah coba hubungin adeknya?" tanya Rangga pada Rafael.
"udah si, tp dia masih les, dan harusnya gue jemput dia.." ucap Rafael.
"yaudah gih lo jemput Saskia.. Biar gue, Reza sama ceweknya disini nunggu Bisma.." ucap Rangga.
Rafael langsung berlari.
"maaf ya kamu harus liat kejadian tadi.. kamu masi pusing atau mual?" tanya Reza.
"gak kok aku gapapa yang.." jawabku.
"Ga, gue pengen ngomong sama lo.." ucap Reza.
"ngomong apa? Mw disini atau dimana?" tanya Rangga.
"duduk situ aja.." ucap Reza sambil menarikku.
"gini.. gue punya usul, tapi sekedar usul aja.." ucap Reza.
"usul apa?" tanya Rangga dengan raut wajah serius.
"jangan bilang ini tentang aku.." aku mulai menebak.
"gak kok.. Ini masalah keluarganya.." ucap Reza.
"kenapa keluarganya?" ucapku dan Rangga bersamaan.
"gimana kalo kita..

GIMANA KALO KITA APA YAA ?
GIMANA NASIB HUBUNGAN NARMI DAN REZA ?
SIMAK DI PART 3 :DD

*NISNIS*

> YANG COPAS HIDUPNYA GAK TENANG DUNIA AKHIRAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar