Sabtu, 16 Juli 2011

Cinta Rujak Bebek (Part XIV)

Dan ternyata.. Eza sudah terbaring lemah tak berdaya.
"EZAA!" Teriakku histeris.
Semua langsung menuju kearahku, Tante Calista ikut menangis histeris hingga pingsan.
Dokter memeriksa denyut nadi Eza, memberi tegangan pada jantung Eza.
Namun semua gagal.
Kali ini aku rasakan kehampaan.
Bahkan airmataku tak bisa mengalir. Sesak di dada yg kurasa.
Secepat inikah aku harus kehilangan Eza? Aku belum cerita padanya bagaimana menderitanya aku sejak 6tahun lalu tanpanya, belum cerita tentang bahagianya saat seminggu lalu dia kembali datang.
Bahkan aku tak sempat membacakan puisiku untuknya.
Tuhan gak adil!
6tahun kepahitan hanya dibalas 1minggu kebahagiaan.
Aku terus melayang dalam pikiranku.
Saat aku tersadar dari lamunan ini,Wajah Eza sudah ditutup selimut.
Aku tak tau harus apa.. Tiba2 kakiku membawaku berlari.. Entah kemana, aku hanya bisa mengikuti langkah kakiku.
Ku genggam erat puisi buatanku, tanpa terasa sudah 30menit aku berlari dan sampai pada sebuahsaung dipinggir sawah.
Tempat dimana terakhir aku bertemu Eza 6tahun yang lalu.
Aku teringat saat Eza kecilku berkata "cuma kamu atikku selamanya.. kalau aku pergi suatu saat nanti.. Kamu gaperlu takut kehilangan aku.. Karna cuma kamu yang aku cinta dari dulu sekarang dan selamanya.." saat itu suara Eza masih terdengar nyaring dan kekanakan.
Lagi2 aku bodoh tak menyadari tanda2 kepergiannya.
Harusnya aku sadar saat dia bilang cuma sayang aku sampai akhir hidupnya, disanalah nafas terakhirnya.
Aku salah menilai Eza.. Kukira selama enam tahun dia telah melupakan aku, bahkan aku sempat mengira sejak awal dia tak pernah menyayangiku, karna dia tega meninggalkanku tanpa pamit waktu itu..
Tapi ternyata dia masih menyimpan semuanya.
Kenangan kita juga kisah cinta kita.
Kini airmataku tak bisa berhenti mengalir.
Mengiringi kepergian Eza pangeran kecilku.
"Atikku.." ketika mendengar suara itu, aku tersentak kaget, aku langsung berusaha mencari darimana suara itu.
"Atikku.." kali ini aku merasa suara itu tepat berada dibelakang
"Ateng.. Itu kamu? Kalau iya,panggil aku satu kali lagi..!" aku berteriak bagai orang gila di pinggir sawah.
Ku tunggu selama beberapa detik, suara itu tak terdengar lagi.. Mungkin itu hanya halusinasiku.
Tapi tiba2..
Suara itu muncul lagi..
"Atikku.." kini suara itu terdengar jelas ditelingaku.
Aku merasa tangan kiriku tersentuh.
Aku melirik kearah tangan kiriku yang menggenggap erat puisi itu.
Ya.. Aku sadar, Eza pasti ingin mendengar aku membaca puisi ini!
‎"aku tau Za.. Makasih udah kasih kesempatan ini ke aku.."

Pangeran kecilku

Kehilangan dirimu adalah hal terburuk dalam hidupku
Meski tlah ku coba lupakan dirimu
Namun hanya rasa rindu yang makin menyerangku
Dan kini kau tlah kembali kesisiku
Menjaga dan menemaniku
Hingga harus mengorbankan nyawamu
Kini aku sadar besarnya rasa sayangmu padaku
Andai kau tau dulu juga aku begitu menyayangimu
Bangunlah dari tidurmu
Dekaplah aku dalam pelukmu
Biarkan aku merasakan lagi hangatnya pelukmu
Tak mampu ku bila harus kehilangan dirimu
Tak inginku terpuruk seperti dulu
Ku mohon tetaplah disisiku
Tetaplah menjadi pangeran kecilku


"Selamat tinggal Atengku.. Semoga kamu tenang disana.. Aku akan berusaha ikhlasin kamu.. Walau itu berat.. Tapi aku akan tepatin janji aku.. Sampai jumpa di surga.." ucapku sambil mengusap airmataku yang terus mengalir.
Dengan perlahan aku berjalan kembali menuju rumah sakit.
Ketika sampai, disana sangat ramai.
Selain Zehan, tante Calista dan Shilvia, ternyata juga Ada Dini, mamah dan ayahku juga ada, sementara tante Calista dan Shilvia sudah sadar.
"sayang kamu darimana aja? Kamu ga papa? Yang sabar ya sayang.." ucap mama sambil memelukku.
Aku hanya terdiam, tatapanku terasa kosong, dan rasanya seperti ada yang menusuk jantung ini.. Semua menjadi gelap.

APA YANG TERJADI PADA RANIS ?
APAKAH RANIS IKUT MENINGGAL ?
SIMAK DI PART SELANJUTNYA :))

*NISNIS*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar