Sabtu, 16 Juli 2011

Cinta Rujak Bebek (Part XII)

"alhamdulillah Eza masih hidup, bahkan kondisinya membaik. Tapi tetap masih sangat lemah.. Oya, ada yang bernama Zehan disini?" tanya Dokter Vicha.
"saya dok.. Lho ada apa ya Dok ?" tanya Zehan bingung.
"kamu dipanggil Eza.." ucap Dokter Vicha.
"saya Dok?" tanyaku penasaran.
"tapi Eza hanya ingin bertemu Zehan untuk saat ini.." ucap Dokter Vicha.
"tapi Dok.." suaraku terhenti. Aku sadar aku ga boleh egois.
"Ranis.. Pasti Eza punya maksud lain.. kamu sabar ya.. Eza pasti juga kangen sama kamu.." ucap tante Calista.
"iya... Tante aku ngerti.." ucapku berusaha sabar.
"yaudah aku masuk ya Nis.." ucap Zehan dengan berat hati.
Zehan pun masuk sendiri sementara semua diluar.
Aku sungguh sangat penasaran, kenapa tiba2 Zehan yang dipanggil? Maka kuputuskan untuk menguping dari balik pintu.
"Gimana keadaan kamu Za?" suaranya terdengar begitu ramah.
"yah lo bsa liat.. lo pcarnya Ranis kan?" suara Eza terdengar sedikit tinggi.
"apa? Kamu kata siapa?" tanya Zehan kebingungan.
"dari Ranis.." suara Eza mulai mengecil.
"eh.. Masa? Tapi bener lho aku bukan pacarnya. Malah aku kira kamu yang pacarnya.." suaranya terdengar kaget.

Aduh gawat! Semua kebohonganku terbongkar!
Tapi entah kenapa perasaanku justru lega.
Karna bengong aku kelewatan beberapa kata demi kata.
Tiba2 yang ku dengar Eza mengucapkan terimakasih.
Tunggu! Eza berterimakasih pada Zehan? Tapi untuk apa Eza lakuin itu ?
"bisa panggil mama sama adek aku?" pinta Eza dengan suara yg mulai melemah.
Zehan pun mulai melangkah keluar.
Aku langsung pura2 duduk di bangku tunggu.
"tante sama Shilvia di panggil sama Eza.." ucap Zehan.
Tante Calista dan Shilviapun langsung masuk dengan terburu-buru. Sementara Zehan duduk disebelahku.
"Eza ngomong apa aja sama kamu?" tanyaku ketus.
"Rahasia antar cowok" jawab Zehan dengan senyum meledek.
"ikh Zehan kasih tau!" pintaku manja.
"yakin mau tau? Aku takut kamu sedih.." ucap Zehan.
"nggak! Plis.." pintaku sambil menggenggam tangan Zehan, lalu memasang tampang yang paling melas.
Dan menghipnotis Zehan dengan sorot mata bagai Malaikat.
"tapi janji ya jangan sedih.. Kamu harus tetep sabar dan tabah.." ucap Yehan mengajukan Syarat.
"iya gampang yaudah cerita cepet..!" pintaku dengan paksa.
"ini bukan hal sepele Ranis.. Kamu harus janji dulu.." ucap Zehan.
"iya okey aku JANJI!" ucapku kesal dan menekankan suaraku di kata2 terakhir.
"tadi Eza bilang.." belum selesai Zehan bicara, tiba2 Mama Eza memanggilku.
"Ranis.. kamu di panggil Eza.." ucap tante Calista sambil berlinangan air mata, matanya sungguh sembab, wajahnya sangat muram.
"tante kenapa? Shilvia mana?" tanyaku bingung.
"Shilvia.. pingsan.." ucap tante Calista sambil terus mengusap airmatanya yang terus mengalir. terasa sekali beban yang di tanggung tante Calista sangat berat.
Namun aku langsung berlari menuju kamar Eza, saat baru masuk, aku melihat Shilvia sedang dikerubungi oleh para dokter dan suster, namun karna aku terlalu bersemangat sama Eza, aku menghiraukan Shilvia dan langsung menghampiri Eza.
"Ezaa.." teriakku sambil berlari menuju Eza.
"kamu udah gapapa kan? masih ada yang sakit? tau gak aku seneng banget kamu udah bangun! kalo bisa peluk kamu, aku udah peluk kamu deh!" cerocos ku panjang lebar.
"aku kamu? ga biasanya lo ngomong gtu?" tanya Eza heran.
"ihh gaboleh yaa sekali2 lembut ke kamu?" tanyaku kesal.
"boleh kok.. katanya mau peluk? peluk dong!" ucap Eza genit.
"yee dasar ahh genit.. tappi apa sii yang enggak buat atengku.." ucapku sambil mendekap Eza sebisa mungkin, namun dengan keadaan tangan di gips dan posisi Eza yang terbaring, sangat sulit untuk mendekapnya erat.
"oyaa kenapa si kok daritadi semuanya pada sedih abis ngomong sama kamu.. padahal kamu gapapa kan?" tanyaku mencari tahu.
"aku gapapa kok.. semua ini karna atikku.." ucap Eza mesra.
"aku sayang kamu Za.." ucapku mencium kening Eza.
"bener kamu sayang aku?" tanya Eza dengan raut wajah serius.
"iyalah.. aku sayang kamu..!" bentakku pada Eza bermaksud meyakinkannya.
"kalo emang bener kamu sayang aku, boleh aku minta sesuatu?" tanya Eza yang makin serius.
"apapun buat kamu.." ucapku dengan senyum.
"aku cuma mau minta 3 permintaan kok.." ucap Eza dengan suara yang mulai parau, kini raut wajahnya tak seceria tadi.
"apa? bilang aja! aku anji akan turutin semua asal kamu seneng dan itu bisa buat kamu sembuh!" ucapku makin bersemangat.
"pertama aku mauu...


MAU APA YAA ?
PENASARAN KAN KAN KAN ?
SIMAK AJE DEH DI PART SELANJUTNYA :D

*NISNIS*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar