Senin, 14 Mei 2012

Just Show My Feeling

                                             

                              Cinta Pertama Masa SMA


         Terik matahari dipenghujung pagi ini sangat menyengat. Aku berjalan dengan
langkah tertahan bersama Mama menuju sebuah ruangan. Mama masuk kedalam ruangan
yang bertuliskan "Ruang Kepala Sekolah" didepan pintunya, sementara aku menunggu
diluar. Setiap orang yang lewat dihadapanku menatap dan memandangku aneh. Mungkin
mereka asing menatapku, begitupun aku yang menatap mereka. Aku hanya berdiri
mematung layaknya gadis culun.
          "Yuk dianter ke kelasnya." Terdengar suara laki-laki separuh baya yang tersenyum
kepadaku. Aku menatap Mama yang baru saja keluar dari ruangan itu bersama laki-laki
paruh baya itu. Mungkin ia kepala sekolahku yang baru.
         “Namanya siapa?” Sapa Laki-laki paruh baya itu.
        “Annis Raka Prianti.” Jawabku sambil tertunduk.
        “Oh.. Kelas barunya X.3 ya…” Ucap laki-laki paruh baya itu lagi sambil mulai
mengajakku dan Mama berjalan kelas baruku.

           Setelah sampai disebuah kelas berlabelkan X.3 aku pun dibimbing masuk kedalam
kelas itu bersama satu orang anak perempuan lain, dan ternyata dia adalah anak pindahan
sama sepertiku. Setelah masuk dan memperkenalkan diri masing-masing aku dan anak
pindahan yang bernama Sintia itu duduk dibangku belakang, dan saling berkenalan satu
sama lain. Kelas yang cukup menyenangkan menurutku, karena salah satu genk dikelas itu
mulai mendekatiku. Dan akhirnya dihari pertama itu aku bergabung kedalam genk dengan
nama THEYRA, Tika, Hilda, Evi, Yeni, Rara, dan anggota baru mereka aku, Annis. Mulai dari
ke kantin, hingga pulang sekolah selalu bersama.
Dihari kedua aku sekolah disini, aku melihat seorang anak laki-laki dengan sweater
merah muda yang masuk kedalam kelasku.
          "Deg... Deg.. Deg..." Ku rasa itulah debaran jantungku kala itu. Aku terus
menatapnya, hingga Hilda mengagetkanku. "Eh Nis, liatin siapa?" Hilda ikut melirik kearah
pandanganku.
         "Itu yang pake sweater pink siapa sih Nda?" Bisikku pada Hilda yang juga sedang
menatap anak laki-laki itu.
          "Namanya Agung, dia anak sebelah, anak X.2. Kenapa Nis? Suka? Nanti Nda
salamin deh!" Ledekan Hilda padaku membuat muka ku memerah padam.
          "Iya sih suka... Tapi dia orangnya baik gak yah Nda?" Aku terus menatap Agung
hingga ia keluar dari ruang kelasku.
          "Agung anaknya baik kok, Soleh lagi... Kan dulu Nda satu SMP sama dia..." Ucap
Hilda sambil tersenyum menggodaku.
Tiba-tiba Hilda berjalan menaiki kursi disamping jendela dan mengeluarkan
kepalanya lalu berteriak agak kencang dari jendela.
          "Gung! Sini deh... Minta nomer Agung cepet... Ada yang mau kenalan..." Suara
teriakan Hilda yang bisa didengar seisi kelas ini membuat jantungku berpacu cepat
lagi.Mungkin bunyinya bukan "dag... dig... dug..." lagi, tapi sudah "dhuar... dhuar...
dhuar..." alias sudah meledak. Berhasil gak yah Hilda dapetin nomer Agung? Aku terus
berharap-harap cemas.
          "Bener nih nomernya? Awas bohong!" Ucap Hilda sambil memasukkan kembali
kepalanya dan turun dari kursi.
          "Nih Nis, dapet nomernya! Catet cepet..." Ucap Hilda sambil memberikan
ponselnya padaku. Aku pun segera meraih ponsel itu dan menyalin nomer Agung
diponselku.
          "Makasih yah Nda... Nih..." Aku mengembalikan ponsel Hilda.Saat aku sedang ingin
bertanya banyak hal tentang Agung, tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi. Kelas pun mulai
ramai, dan pelajaran pertama akan segera dimulai. Ku urungkan niatku tadi dan kembali
fokus belajar.
          ***

          Malam harinya, aku memutuskan untuk mengirim pesan pendek (SMS) ke Agung.
Hanya mengirim SMS saja, jantungku sudah berdegup tak karuan. "Aduh Nis, lo kenapa
jadi deg-degan gini sih? Ayo dong jangan lebay!" Gumamku sambil menggenggam erat
ponselku. Tanganku gemetar diiringi dengan detakan jantung yang berdebar.
Akhirnya setelah berpikir dan menimbang-nimbang selama satu jam, aku pun
berhasil mengirim pesan pendek pada Agung. Tak lama Agung pun membalas dan
menanyakan aku siapa, dan lagi-lagi aku menjadi gugup tak karuan. "Jujur gak yah?
Masa iya Gue jujur? Tar kalo dia gak kenal gue gimana? Nyesek dong?" Gumamku sambil
mondar-mandir bagai orang bodoh yang sedang jatuh cinta.
         "Apa gue bener-bener jatuh cinta sama Agung? Pandangan pertama? Cinta
pertama?" Aku terus memutar otakku untuk menemukan jawaban itu.Sebelumnya aku
tak pernah merasakan debaran jantung yang begitu menggelegar bagai ingin meledak.
Mataku tak bisa berpaling saat menatapnya, dan bahkan waktu serasa terhenti saat aku
bias menatap senyuman indahnya, senyuman yang mampu menggetarkan hatiku ini.
Aku langsung menelepon Hilda tentang jawaban apa yang harus aku berikan pada
Agung. Tapi dengan mudah Hilda menjawab "Jujur aja..." Ucapan Hilda yang ku dengar
lewat telepon memang terdengar sangat gampang, tapi pada kenyataan aku sangat takut.
Tapi setelah ku kumpulkan keberanianku, akhirnya dengan jujur ku sebutkan
namaku bahwa aku adalah Annis anak X.3. Dan ternyata tanggapannya begitu membuatku
bahagia tak terkira. Ternyata dia mengenaliku dan tahu bahwa aku anak baru atau lebih
tepatnya anak pindahan.

         Dan semakin lama aku dan Agung pun semakin sering berhubungan lewat SMS.
Hingga dihari ketujuh aku kenal dekat dengannya, dan tepat tanggal 14 Februari itu. Entah
siapa yang memulai kami berdua saling jujur tentang perasaan kami berdua. Walaupun
dia hanya mengungkapkan perasaannya lewat SMS dan telepon, buatku itu sudah cukup
membuatku bahagia. Karena sejak awal, yang aku mau adalah dia. Tanggal 14 Februari
pun menjadi tanggal bersejarah untukku. Tanggal jadianku dengan Agung Gumilar.
         ***

         Hari itu hari senin, dan pelajaran terakhirku adalah TIK (Teknologi Informasi dan
Komunikasi). Setelah selesai praktik di lab, aku dan teman-teman kelas X.3 diizinkan untuk
pulang duluan, karena praktik sudah selesai. Saat ku lirik jam tangan, ternyata setengah
jam lebih awal dari jam pulang biasanya. Awalnya aku ingin langsung pulang, tapi ternyata
Agung mengajakku bertemu setelah pulang sekolah. Aku yang sudah jalan sampai ujung
gang sekolahpun dengan perasaan bahagia dan bercampur deg-degan berjalan kembali
menuju gerbang sekolah. Walaupun lumayan jauh, tapi buatku jika untuk bertemu
dengannya, itu hanyalah bagai melangkah tiga jengkal penuh kebahagian. Bagaimana
bisa? Hanya orang yang sedang jatuh cintalah yang mampu menjawabnya.

         Setelah menunggu setengah jam, akhirnya bel tanda pulang menghapuskan
kejenuhanku yang menunggu kekasih hatiku. Semua murid sudah berhamburan menuju
pintu gerbang, aku yang berdiri mematung sendiri di pintu gerbangpun mulai gugup.
Gugup dan tak sabar ingin bertemu dengannya. Tapi hingga hampir seluruh murid
sudah keluar dari gerbang, aku tak kunjung menemukannya. Ku putuskan untuk sambil
berjalan meninggalkan gerbang. Lima langkah sudah aku menjauh dari gerbang, ku tengok
kebelakang kearah pintu gerbang, dan berdirilah pangeran hatiku disana. Berdiri sedang
mencariku. Aku pun berhenti dan tersenyum kearahnya, ia pun berjalan menyusulku.
         "Maap yah, udah lama nunggu Agung..." Agung mengulurkan tangannya kearahku
dengan napas yang sedikit terengah-engah.
         Aku pun meraihnya dan menjawab "Iya gak apa-apa kok..." Ucapku dengan gugup.
Kini aku dan Agung pun berjalan berdampingan.
          "Ih maap yah Agung gak ada motor... Jadi gak bisa nganter... Emang mau gitu sama
Agung?" Ucap Agung sambil terus berjalan disisiku.
          "Ya ampun, gak apa-apa kali... Lagi juga gak mau ngerepotin Agung... Anis suka
Agung juga bukan karena motor kok..." Ucapku sambil terkekeh.

         Tak terasa kami berdua sudah berada diujung gang. Agung pun menemaniku
menyebrang jalan untuk menunggu angkutan umum. "Mau dianterin sampe rumah gak?”
Tawarannya membuatku ingin melompat dan memeluknya karena rasa senang yang ku
rasakan sekarang. Tapi aku tidak mau dianggap manja atau semacamnya, lagipula hari
sudah sangat sore. Kalau Agung mengantarku sampai rumah, takut dia pulang kesorean,
karena memang rumahku sangat jauh, sedangkan rumah kami berada diarah yang
berlawanan.
         "Gak usah deh Gung, jauh kan.. Takut nanti Agung pulangnya kesorean..." Ucapku
sambil berusaha sekuat tenaga menahan debaran jantung ini saat menatapnya.
         "Oh... Yaudah hati-hati.. Tuh ada angkot..." Agung pun menyetop sebuah angkutan
umum untukku.
         "Pulang duluan yah Gung." Ucapku sambil menaiki angkutan umum. Aku pun
pulang ke rumah dengan perasaan bahagia yang tak pernah ku bayangkan.
         ***

          Hari demi hari terus aku lewati dengan perasaan tulus. Aku benar-benar mengerti
arti cinta pertama darinya. Hanya dialah yang mampu membuat jantung ini berdebar tak
wajar saat aku didekatnya. Hanya dialah yang mampu membuat nafasku terasa sesak saat
aku menatap senyumnya. Hanya dia yang mampu membuatku membisu, seakan mulutku
terkunci rapat karena suaranya yang merdu. Hanya Agung yang mampu membuatku
menjadi manusia terbodoh didunia. Tapi semua kebahagiaanku harus hancur, dan hanya
kurasakan dalam sepuluh hari. Hubunganku berakhir karena sebuah perbedaan kecil. Dan
permasalahan itu membesar hingga hubungan kami harus berakhir. Sakit memang, tapi
jika keputusan ini bisa membuatnya merasa lebih nyaman, aku akan terima semuanya.

         Awalnya, aku ingin menjauh darinya, walaupun aku tahu ia mendekat. Tapi hatiku
selalu sakit saat menatap wajahnya. Rasa sakit akan kehilangan itu menyiksa batinku
yang tak mampu memilikinya. Aku terus mencoba melupakannya, namun yang ada
hanya ingatan tentang kenangan indah bersamanya yang semakin terbayang olehku.Jadi
biarkanlah aku simpan seluruh perasaan ini sendiri. Tanpa harus ia tahu, seberapa dalam
cintaku, seberapa tulus perasaanku, dan seberapa indah dirinya dimataku.
         ***

         Satu tahun lebih telah berlalu, aku sudah mulai bisa melupakannya. Selain karena
IPA dan IPS yang berbeda jam sekolah, tapi juga karena aku dan dia hilang komunikasi
begitu saja. Di kelas XII ini, semua jurusan masuk pagi. Dan tentu saja aku dan Agung
mempunyai peluang kesempatan untuk sering bertemu. Dan dugaanku benar. Aku
sering berpapasan dengannya. Dan entah kenapa, tiap aku bertemu atau berpapasan
dengannya, debaran jantung yang dulu menemaniku tiap saat aku bertemu dengannya,
kini aku rasakan lagi. Tak ada yang berubah sedikitpun. Baik debaran jantung itu maupun
perasaan itu. Tapi entah mengapa sikapnya sangat cuek padaku.

         Aku pun mulai memberanikan diri untuk bertanya langsung padanya tentang
sikap anehnya padaku. Namun, hanya jawaban menggantung yang ku terima. Disaat
aku bertanya mengapa sikapnya berbeda padaku, dia hanya menjawab "Karena Anis tuh
sombong! Arrogant sama gue!" Dan tut... Tut... Ia mengakhiri teleponnya. Disaat aku
menelepon balik, ia menghindar. Temannyalah yang mengangkat teleponku.

         Sepanjang malam itu aku hanya bisa menangis, dan merenungkan arti ucapannya.
Seburuk itukah aku dimatanya? Sejahat itukah aku menurutnya? Jujur aku memang
terkesan jutek atau sombong hanya untuk menutupi perasaanku. Perasaanku yang masih
tertuju padanya. Debaran jantungku yang masih sama setiap aku menatapnya. Debaran
jantung yang sama sejak saat aku menatapnya. Debaran yang membuatku yakin, bahwa
dialah cinta pertama.

         Tapi, sungguh aneh sikap Agung padaku dalam beberapa bulan belakangan.
Kadang tiba-tiba Agung meneleponku, menegurku duluan dan bahkan mau membantuku
saat aku membutuhkan bantuannya. Saat aku memintanya mengambil beberapa foto
panti asuhan, juga saat aku kehilangan dompetku, ia mau membantuku mencarinya. Tapi
kadang ia masih sering berubah tak menentu. Sikapnya kadang cuek tak menegurku.
Apakah harus aku yang menegurnya? Apakah harus seorang wanita yang selalu
memulai? Tak bisakah ia memahami perasaanku? Butuh keberanian ekstra bagiku untuk
menegurnya. Karena, hanya menatapnya dari kejauhan saja sudah membuatku spot
jantung dibuatnya.

         Kadang aku ingin merasakan saat-saat berdua dengannya. Saat-saat dimana kita
bisa saling jujur tanpa harus ada yang ditutupi. Aku ingin tahu lebih banyak tentang cinta
pertamaku. Tapi sepertinya semua harapan itu harus sirnah. Karena akhir masa putih abuabu
sudah didepan mata. Dan jika masa itu berakhir, tiada lagi masa yang membuatku
bisa bertemu dengannya. Tidak akan lagi ku rasakan debaran jantung seperti saat aku
bersamanya... Tiada lagi canda tawa bersamanya, dan tiada lagi rasa gelisah ketika aku
berada didekatnya. Yang ada hanya air mata. Air mata karena harus berpisah dengannya,
air mata disaat aku merindukan kehadiran dan senyum menawannya, dan air mata saat
aku harus menerima kenyataan bahwa aku tak bisa memilikinya.

          Tapi aku takkan pernah menyesal telah memiliki perasaan yang sangat dalam
padanya. Aku juga tidak menyesal pernah merasakan sakit ataupun kecewa karena dia.
Tapi aku bersyukur karena dialah cinta pertamaku. Karena dia telah memberikanku
banyak kenangan indah selama aku mengenalnya. Kenangan yang tak akan pernah aku
lupakan walaupun aku telah jauh darinya. Karena aku percaya, sejauh apapun kita akan
melangkah dan walaupun itu tak sejalan... Suatu saat takdir akan mempertemukan kita
jika memang kita telah dijodohkan. Dan walaupun kini kita harus berpisah menjalani
kehidupan masing-masing, tapi ketahuilah... Bahwa dirimu adalah salah satu hal yang
paling berharga dalam hidupku. Tak perlu jawaban atau balasan darimu. Cukup izinkan
aku untuk terus mencintai dan mengenalmu. Karena engkaulah cinta terindah dan
pertamaku, Agung Gumilar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar