Senin, 14 Mei 2012

Cintaku Nyasar ke Hatimu *RAISE* - Bag.5 #ENDING

Penulis : Annis Raka Prianti
Follow : @AnnisPrianti / @AnnisPrianti_

Sebelumnya

     "Stev? Lo didalem?" Ku ketuk pintu gudang.
     "Iya, siapa diluar?" Sahut Steven.
Aku membuka pintu gudang itu dan masuk kedalamnya. Ternyata Steve sedang duduk dipojok gudang. Ku tutup pintu gudang dan mulai berjalan menuju Stev.
     "Jangan di...tu...tup... Hufth." Wajahnya terlihat pasrah.
     "Lho kenapa? Terus lo ngapain disini aja? Ga balik ke Villa?" Aku pun duduk dihadapan Stev.
     "Sekarang bukan cuma gue yang gak bisa balik ke Villa, tapi lo juga Grey..." Ucap Steven dengan raut wajah pasrah.
     "Hah? Maksud lo? Kenapa kita gak bisa keluar?" Tanyaku mulai panik. Aku mulai memutar otakku dan mencerna maksud ucapan Steven.
     "Pintunya kekunci, gak bisa dibuka dari dalem, cuma bisa dibuka dari luar." Ucapnya pasrah.
Tubuhku langsung gemetar, peluh mulai menetes dari pori-pori kulitku.
     "Terus gimana kita mau keluar?" Tanyaku panik sambil berlari kearah pintu gudang.
     "Yah tunggu ada yang bukain." Jawab Steven dengan raut wajah yang mulai frustasi.
     "Duh mana gue laper... Gimana dong Stev?!" Aku terus memutar gagang pintu sialan itu.
     "Yah sabar aja... Nih gue ada coklat. Seenggaknya bisa ganjel perut lo." Ucap Steven sambil mengulurkan coklat.
     "Cuma satu? Lo gimana?" Ku raih coklat itu dengan ragu.
     "Udah makan aja, yang penting kan elo..." Sahutnya dengan senyum yang berlesung dikedua pipinya. Terlihat sangat manis dibawah sinar redup yang masuk lewat ventilasi gudang ini. Yah, ku akui senyumnya sangat manis.
     "Oh ya, udah dapet pengganti Iman?" Pertanyaan Steven membuatku tersadar dari lamunanku saat menatap wajahnya.
     "Hah? Belum.. Belum ada yang cocok." Jawabku asal.
     "Emang harus cocok yah? Bukannya justru dalam hubungan itu harus saling melengkapi satu sama lain? Kalo terlalu cocok dan gak ada perbedaan gak seru juga dong?" Sambung Steven sambil terus menatapku.
     "Yah, gue belum bisa nentuin siapa orangnya. Gue masih takut untuk memulai yang baru. Gue takut sakit dan kecewa lagi." Ungkapku tanpa sadar.
Aneh! Biasanya aku hanya bisa curhat jika dengan Endrew. Bahkan dengan Gischa, aku masih punya beberapa rahasia besar.
      "Setiap ada akhir, pasti ada awal yang baru. Jangan pernah takut untuk memulai sesuatu yang mungkin bisa jadi yang lebih baik, atau bahkan terbaik." Ucap Steven dengan senyum mautnya.
Sementara aku hanya tersenyum tak menjawab sepatah katapun.
     "Kalau seandainya, ada orang yang tulus suka sama lo bahkan udah mulai sayang sama lo... Dan mau setia juga mulai serius, apa akan lo terima?" Steven semakin menatapku dalam. Membuatku sedikit gelisah dibuatnya.
     "Gue belum tau Stev, yang pasti gue nilai dulu lah orangnya, gak akan sembarangan nerima cowok lah gue..." Ungkapku polos.
     "Kalo orang yang tadi gue omongin itu gue sendiri? Apa jawaban lo?" Steven menatapku sambil tersenyum. Mengeluarkan senyum manisnya itu. Lesung pipnya terlihat jelas saat ia tersenyum.
     "Hah?!" Mataku membulat menatap Steven. Tubuhku gemetar lagi. Detakkan jantungku pun tiba-tiba terasa lebih cepat. ada apa denganku?
     "Jangan jawab sekarang... Gue mau lo pikirin secara mateng. Oke? Udah gak usah tegang gitu. Makan tuh coklatnya katanya laper. Tar keburu meleleh tuh coklat gara-gara lo remes gitu... Hahaha..." Steve tertawa lepas, seakan tak ada beban. Padahal ia baru saja mengungkapkan perasaannya padaku. Apakah semua ini hanya lelucon?
     "Stev, becanda gak usah kelewatan deh!" Aku menjauh dari Steve. Sesaat aku tak mendengar suara Steve. Keheningan itu membuatku semakin gugup.
     "Gue gak pernah bercanda Grey kalo soal perasaan..." Kurasakan tubuhku dipeluk dari belakang. Ya, Steven memelukku. Kedua tangannya dilingkarkan tepat dibawah leherku. Kurasakan hangatnya suhu tubuh Stev.
Tanpa sadar aku terhanyut dalam peluknya. Aku sama sekali tak mencoba berontak atau melepaskan pelukannya. Aku malah berharap Stev akan memelukku lebih erat.
"KREK...." tiba-tiba saja pintu gudang terbuka...
     ***

     "KREK...." tiba-tiba saja pintu gudang terbuka...
     "Grey?!" Iman berteriak dengan suara tertahan.
     "Iman..." Steven langsung melepaskan pelukannya.
     "Sorry, kalian ditunggu anak-anak." Iman pun langsung berlalu begitu saja. Tapi untungnya, pintu gudang tidak ditutup olehnya, dengan kata lain, aku bebas dari kurungan ini.
     "Sorry Grey, gue kebawa suasana. Gue harap lo jawab dengan hati lo. Gak perlu buru-buru, gue akan selalu nunggu jawaban dari lo." Ungkap Steven. Steven pun menarik tanganku untuk berjalan keluar gudang. Aku hanya diam dan menurut. Aku tak tau perasaan apa ini... Aku bahan tidak bisa mengendalikan debaran jantungku sendiri. Kenapa? Ada apa sebenarnya dengan diriku?
     ***

     "Lu berdua dari mana aja sih? Pacaran ye lo?!" Anes cekikikan menggodaku dan Stev.
     "Gue kekunci di gudang! Udah spreinya gak ada..." Sahut Steven sambil melepaskan genggaman tangannya padaku. Tubuhnya ambruk di sofa.
     "Sorry Stev, gue emang belum cek gudang belakang. Mungkin di gudang atas. Sorry yah... Makan dulu gih sana lo berdua." Rendy menatapku bingung.
Ya sedaritadi aku terdiam dan berdiri mematung. Debaran jantungku mulai normal, namun tubuhku masih gemetar.
     "Grey? Lo gak apa-apa kan? Lo gak sawan kan?" Endrew mencubit kedua pipiku.
     "Hah? Nggak, gue cuma laper." Sahutku asal.
     "Hahahaha... kasian ampe sawan anak orang gara-gara kelaperan. Makan sana Grey!" Rendy tertawa kecil sambil tersenyum memandangku.
Rendy, sadarkah kau tentang perasaan ini? Aku mengagumi senyummu yang selalu membuat hatiku luluh. Tatapan matamu yang selalu membuat hatiku serasa meleleh. Tapi kenapa? Kenapa kau tak pernah menyadari itu?
     "Greeyy!" Endrew menarik hidung mungilku. Lebih tepatnya hidung pesekku.
     "Sakit!" Teriakku tepat didepan wajah Endrew.
     "Tuh kan baru sadar kan nih anak. Lo kenapa sih Grey? Sakit?" Endrew meletakkan punggung telapak tangannya di dahiku.
     "Ikut gue yuk!" Ku tarik Endrew berlari keluar Villa.

     Aku terus berjalan cepat sambil terus menarik Endrew bersamaku.

‎     "Aduh Grey lo kenapa sih?!" Endrew memaksaku menghentikan langkahku.
     "Gue bingung Drew.. Lo tau?! Stev bilang dia suka sama gue, dia membak gue! Gue gak tau harus gimana sekarang.." Ungkapku sambil menatap langit yang mulai gelap.
     "Kenapa musti bingung? Gue gak tau jawabannya. Cuma lo yang tau jawabannya... Tanya sama hati lo.." Endrew mencengkram pundakku.
     "Lo tau kan, selama ini yang gue suka siapa? Sedangkan Stev..." Aku memandang coklat pemberian Stev tadi.
     "Stev kenapa?!" Endrew ikut memandang coklat ditanganku.
     "Dia buat gue suka sama dia... Yah jujur, gue mulai suka sama gue. Gue ngerasa dia selalu perhatian sama gue, selalu berusaha jadi dewa penolong gue..." Ungkapku sambil tersenyum saat mengingat wajahnya.
     "Jadi? Pilihan lo?!" Endrew menggaruk kepalanya kebingungan.
    "Waktu gue jatuh.. Yang gendong gue siapa?" Ku tatap Endrew yang kebingungan.
    "Steven." Sahut Endrew.
    "Yang palin sering nanyain kondisi gue, yang gak pernah malu nunjukin perhatiannya ke gue? Waktu semua ninggalin gue kesini, satu-satunya yang mau nungguin gue sampe kaki gue sembuh? Lo tau siapa?!" Senyumku makin mengembang lagi.
    "Steven?" Endrew mengangkat sebelah alisnya.
    "Yeah... Gue tau jawabannya. Aaahh Endrew gue tau jawabannya!" Ku peluk Endrew dengan riang.
    "Nah gitu dong.. Gue juga lebih setuju lo sama Steven.. Yaudah kita balik ke Villa yuk!" Endrew menarik tanganku untuk berjalan.
     "Gak... Lo aja.. Gue mau disini..." Sahutku cuek.
     "Hah?" Endrew mendekatkan matanya dengan mataku.
     "Panggilin Stev kesini yah... Ada sesuatu yang mau gue lakuin. Oke?" Aku tersenyum memelas.
     "Siap... Gue seneng lo udah dapetin keceriaan lo yang udah lama ilang. Yaudah, tunggu yah!" Endrew pun berlari menuju Villa. Aku pun duduk dibawah sebuah pohon yang rindang, tak jauh dari Villa.


      Tak lama, aku melihat sosok Steven sedang berlari dari kejauhan.
     "Grey? Lo gak apa-apa?" Stev terlihat cemas.
     "Jantung gue..." Ku tarik tangan Steven dan ku letakan diatas hatiku.
     "Ya ampun lo deg-degan gini? Lo sakit?" Steven terlihat semakin panik.
     "Gara-gara lo tau!" Ucapku pelan.
     "Hah?" Raut wajah Steven semakin tak karuan. Perpaduan antara bingung dan panik, sungguh lucu!
     "Yah gue kayak gini tiap ada lo... Gue mau Stev, terima lo..." Ungkapku sambil tersenyum dan meremas tangannya yang masih ada diatas hatiku.
Stev tersenyum padaku, senyum termanis yang pernah ku lihat.
*CUP* Steven mencium keningku.
     "Aahh pingsan deh..." Aku berbaring diatas padang rumput hijau. Steven pun ikut berbaring disebelahku.
     "Gue gak tau kenapa ini terjadi, sejak kapan perasaan ini tumbuh... Tapi yang gue yakini pasti, gue juga suka sama lo.. Debaran jantung ini, cuma lo yang bisa buat dihati gue. Karena itu, hati gue bilang... Gue milih lo..." Ku tatap Stev yang sedang menatapku dengan senyumnya.
Ia meraih tanganku dan meletakkannya diatas hatinya, sama seperti yang aku lakukan tadi.
     "Gue udah gak bisa ngomong apa-apa... Lo bisa cari jawabannya sendiri disini." Stev meremas lembut tangannya yang sedang menggenggam tanganku. Debaran jantungnya sama seperti debaran jantungku. Steven memejamkan matanya, begitupun aku. Ku letakan tanganku yang satu lagi tepat dihatiku. Ku nikmati perpaduan debarang jantungku dan jantung Stev yang seperti sedang berlomba.
Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba cintaku bisa nyasar ke hati Stev... Tapi yang bisa aku mengerti, perasaan ini adalah cinta.
Cintaku... Nyasar ke hati Stev... :)

     Jangan pernah egois dalam mencintai seseorang, jangan terlampau jauh mencintai dan menegjar seseorang... Dan saat kau sudah tak mampu mengejar orang yang kamu cintai, rasakanlah cinta yang hadir disekitarmu. Kamu tak akan pernah tau kalau dialah yang terbaik, atau setidaknya jauh lebih baik dari sebuah harapan kosong yang kau kejar :)

-END-

NISNIS
KRITIK DAN SARAN DITERIMA
JANGAN LUPA Follow @AnnisPrianti_ (twitter baru) :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar