Kamis, 25 September 2014

Be The Last Love | Chapter 3 – Who Are You?!



Chapter 3 – Who Are You?!

Preview from Chapter 2 – The Truth

            Malam semakin terasa dingin, dengan pakaian yang Krystal kenakan saat ini membuat rasa dingin itu semakin terlihat jelas. Mini dress yang ia kenakan tak cukup untuk menutupi seluruh tubuhnya, membuat Krystal semakin merasa takut.
            "Apa yang harus aku lakukan? Aku mau pulang..." Rintih Krystal sambil berjalan dipinggir jalan dengan perlahan mencari tempat untuk duduk.
            "Eonni... Aku mau pulang..." Rintih Krystal disela isak tangisnya.
            Krystal terus berjalan tanpa tau arah lagi, kini ia benar-benar butuh tempat untuk berteduh. Karena kakinya mulai terasa sakit sepanjang berlari dan berjalan tanpa arah.
            "Aku mau pulang..." Rintih Krystal yang terduduk dipinggir jalan.
            Krystalterus menangis terisak dipinggir jalan yang sepi. Rasa sedih bercampur rasa takut itu hanya bisa terungkapkan oleh tangis yang semakin lama semakin terdengar histeris.
            "Noona, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya seseorang yang tiba-tiba terlihat berdiri didepan Krystal yang sedang menangis.
            "Siapa kau? Apakah kau orang baik?" Tanya Krystal yang menatap ragu seorang laki-laki dihadapannya.

***

            "Apa aku terlihat seperti orang jahat?" Ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya kepada Krystal untuk membantunya bangkit dari duduknya.
            "Benarkah, jika kau berbohong aku akan menendangmu!" Ucap Krystal dengan suara mencoba untuk lantang.
            "Baiklah jika tidak mau aku bantu..." Laki-laki itu hendak mengembalikan uluran tangannya ke posisi semula, namun tiba-tiba tangannya diraih oleh Krystal.
            "Ah.. Tunggu!" Krystal meraih tangan laki-laki itu lalu bangkit dari duduknya.
            "Apa yang bisa aku bantu agar kau berhenti menangis?" Tanya laki-laki itu lagi.
            "Aku ingin pulang..." Jawab Krystal dengan mata berair lagi.
            "Baiklah dimana rumahmu?" Tanya laki-laki itu dengan ekspresi datar.
            "Ah... di... Aku tidak tau alamatnya... Aku hanya tau letak pasti tempatnya..." Krystal mulai menangis lagi.
            "Lalu bagaimana kau bisa sampai kesini selarut ini? Apa ada sesuatu yang kau cari?" Tanya laki-laki itu.
            "Aku tersesat, bahkan aku tidak tau ini dimana. Sejak kecil, selain sekolah dan kuliah aku tidak pernah kemanapun..." Curhat Krystal disela isak tangisnya.
            "Jangan menangis, kita pikirkan cara lain... Kau kuliah dimana?" Tanya laki-laki itu kemudian.
            "Universitas Of Seoul. Kau tau bukan? Kau pasti tau..." Ucap Krystal sambil menghapus air matanya karena merasa sedikit lega.
            "Ya, baiklah akan ku antar kesana besok..." Jawab Laki-laki itu.
            "Besok? Tidak! Bagaimana dengan malam ini?! Apa yang sedang kau rencanakan?!" Krystal menatap laki-laki itu dari puncak kepala hingga ujung kakinya.
            "Kau pikir ini mauku mengantarmu besok? Tidak sadarkah kau sekarang sudah sangat larut untuk mengantarmu ke kampus?" Laki-laki itu menunjukkan jam tangannya.
            "Kau benar... Lalu bagaimana malam ini?" Krsytal mulai menangis lagi.
            "Berhentilah menangis, ikut aku pulang. Ayo..." laki-laki itu melangkah berjalan.
            "Tapi... Ah..." Kaki Krystal terasa sakit karena keram.
            "Ada apa?" Laki-laki itu langsung berlari menghampiri Krystal.
            "Kaki ku keram... Sepertinya aku kebanyakan lari..." Jawab Krystal.
            "Kau berlari dari kampusmu? Wah pasti kau wanita yang sangat kuat..." Laki-laki itu menatap kaki Krystal.
            "Aku juga tidak tau bagaimana bisa sampai disini... Aku..." Krystal terdiam mengurungkan mengucapkan kata selanjutnya.
            "Duduklah..." Ucap laki-laki yang terlihat berlutut dihadapan krystal.
            Laki-laki itu menijit lembut kedua kaki Krystal untuk beberapa saat. Hal itu membuat Krystal teringat pada Min Ho yang juga pernah memijat kakinya. Krystal terdiam, begitu juga laki-laki yang sedang memijak kakinya. Suasanapun menjadi hening untuk beberapa saat.
            "Apakah tidak apa-apa jika aku di rumahmu? Maksudku apakah tidak akan mengganggu seseorang dan menyebabkan salah paham?" Krystal berusaha melirik laki-laki yang sedang serius memakaikan sepatu pada kakinya tanpa rasa enggan. Krystal pun langsung berdiri, karena posisi duduk yang tidak straegis saat ia memakai mini dress.
            "Sudahlah, sudah sangat larut. Tidak baik bagimu untuk berada diluar rumah." Ucap laki-laki itu sambil memberikan jaketnya dan membalutkan jaketnya dipinggang Krystal agar mini dress Krystal sedikit lebih tertutup berkat jaket laki-laki itu.
            "Terima kasih..." Ucap Krystal tersipu.
            "Ayo pergi..." Laki-laki itu meraih tangan Krystal lalu menggenggamnya. Krystal sedikit terlihat tersipu saat laki-laki itu menggenggam tangannya.
            "Apakah masih jauh?" Tanya Krystal yang terus menatap wajah laki-laki sipit yang masih menggengam tangannya dan menyambarkan rasa hangat melalui tangannya itu.
            "Apa kau lelah?" Tanya laki-laki itu yang tiba-tiba menghentikan langkah kaki-nya, hingga membuat Krystal menabrak tubuh laki-laki itu.
            "Ya! Kenapa kau tiba-tiba berhenti berjalan?" Bentak Krystal tiba-tiba dan langsung menutup mulutnya dengan tangan lainnya.
            "Sedikit lagi, jadi bertahanlah..." Jawab laki-laki itu acuh dengan omelan dari Krystal.
            Mereka berduapun kembali berjalan, dan berhenti disebuah rumah yang sederhana. Laki-laki itu mengajak Krystal masuk, namun Krystal terlihat ragu.
            "Kenapa? Apa kau tidak mau masuk? Apa kau mau tidur diluar?" Tanya laki-laki itu.
            Tiba-tiba pintu rumah terbuka, terlihat seorang gadis kecil keluar dengan piyamanya.
            "Oppa, kau pulang? Darimana saja?" Tanya gadis yang terlihat berumur 10 tahun itu.
            "Kau belum tidur, Ma Ri?" Laki-laki itu langsung melepas genggaman tangannya pada Krystal dan menggendong gadis kecil itu.
            "Aku tidak bisa tidur tanpa Oppa..." Jawab gadis kecil itu dengan suaranya yang imut.
            "Tapi hari ini aku tidak bisa tidur denganmu, kau harus tidur dengan Eonni itu, oke?" Jelas laki-laki itu sambil menunjuk Krystal yang masih berdiri mematung.
            "Eonni itu pacarmu, Oppa?" Tanya gadis kecil itu dengan polosnya.
            "Bukan, aku menemukannya dijalan..." Jawab laki-laki itu cuek.
            "Apakah kau akan merawatnya juga seperti merawatku, Oppa?" Tanya gadis kecil itu lagi dengan tatapan kesal.
            "Tidak, dia terlalu banyak makan..." Canda laki-laki itu dengan senyum berbinarnya.
            Krystal tersipu malu saat melihat senyum laki-laki yang sepertinya mulai menawan hatinya itu.
            "Ya! Apa yang kau katakan barusan?" Ucap Krystal yang tiba-tiba sadar ucapaan laki-laki itu membuatnya kesal.
            "Sudahlah, ayo masuk..." Ucap laki-laki itu sambil berjalan masuk meninggalkannya.
            Keduanya masuk kedalam rumah laki-laki yang sampai sekarang bahkan belum diketahui namanya oleh Krystal.
            "Aku tidak punya pakaian wanita, jadi pakai yang ada saja. Dan silahkan tidur di kamar Ma Ri... Dia akan tidur bersamaku di kamarku." Ucap laki-laki itu sambil meletakkan pakaian ganti untuk Krystal diatas kasur dan keluar meninggalkan kamar itu.
            Krystal langsung mengganti pakaiannya dengan kemeja lengan panjang dan celana pendek milik laki-laki itu.
            "Apakah dia tinggal di rumah ini hanya dengan adiknya?" Gumam Krystal yang tidak bisa memejamkan matanya.
            "Ah.. Kenapa aku jadi memikirkannya? Tapi, aku sungguh beruntung bertemu seorang pria yang baik, jika tidak... Aku pasti masih sendirian diluar dan menangis..." Lirih Krystal.
            "Eonni... Apakah kau mencemaskanku? Min Ho Oppa, apakah kau mengkhawatirkan aku? Aku benci kalian..." Gerutu Krystal sambil memejamkan matanya. Air matanya pun ikut mengalir saat kedua mata indahnya terpejam.
***     

            "Kau sudah bangun? Aku membuatkan kalian sarapan..." Ucap Krystal sambil merapihkan meja makan.
            "Masak? Kau dapat darimana bahan-bahan untuk memasak?" Tanya laki-laki itu.
            "Dari kulkas... Ah.. Maaf aku sembarangan memakai bahan makannmu, tapi aku merasa bisa sedikit membalas kebaikanmu jika aku memasak untukmu dan adikmu..." Jelas Krystal.
            "Ah... baiklah... Aku akan mandi, sarapan lalu mengantarmu pulang..." Ucap laki-laki itu.
            "Ah tunggu, aku harus mengantar Ma Ri sekolah sebelumnya..." Sambung laki-laki itu sambil berlalu ke kamar mandi.
            "Dia terlihat cuek diluar, tapi sangat baik..." Gumam Krystal.
            "Oppa..." Ma Ri keluar dari kamar mencari Oppa-nya.
            "Kau sudah bangun? Apakah mau sarapan?" Tanya Krystal yang mendekat pada Ma Ri.
            "Eonni, dimana MinHyuk Oppa?" Tanya gadis itu.
            "Namanya Minhyuk? Hmm.. Dia sedang mandi... Ayo kita sarapan dulu, habis itu mandi..." Krystal menggandeng Ma Ri ke meja makan.
            Krystal menyuapi Ma Ri sambil memperhatikan tingkah lucu gadis kecil itu. Krystal jadi semakin teringat dengan Eonni-nya. Raut wajahnya pun terlihat murung.
            "Kau sudah bangun? Sudah sarapan?" Laki-laki yang bernama Minhyuk itu menggendong Ma Ri dan membawanya ke kamar mandi.
            MinHyuk kembali ke meja makan dan memakan sarapan yang dibuat Krystal.
            "Ini enak..." Puji laki-laki itu.
            "Apakah kau hanya tinggal berdua dengan M Ri?" Tanya Krystal.
            "Apakah itu penting untukmu?" Jawab laki-laki itu dengan cuek.
            "Ya! Apakah tidak ada jawaban yang lebih baik?!" Bentak Krystal kesal.
            "Aku tidak suka orang asing yang terlalu tertarik dengan kehidupanku..." Jawab Minhyuk.
            "Ya! Kau berlebihan, siapa yang tertarik padamu? Aku hanya berbasa-basi!" Elak Krystal.
            "Sudahlah, habiskan segera sarapanmu..." Ucap laki-laki jutek itu.

***

            Setelah mengantar Ma Ri sekolah, laki-laki yang ternyata bernama Minhyuk itu pun mengantar Krystal dengan scooternya hingga depan kampusnya.
            "Terima kasih... Minhyuk?" Ucap Krystal dengan sedikit ragu.
            "Kau tau namaku?" Minhyuk menatap Krystal dengan tatapan penuh rasa curiga.
            "Ma Ri memanggil namamu saat ia terbangun tadi pagi... Apakah salah aku tau namamu?" Tanya Krystal yang merasa jengkel dengan sikap angkuh Minhyuk.
            "Tidak... Baiklah aku pergi..." Minhyuk memakai helmnya kembali.
            "Tunggu..." Krystal menahan tangan Minhyuk.
            "Ya?" Minhyuk memiringkan wajahnya menatap Krystal.
            "Krystal!" Seseorang berlari menghampiri Krystal.
            "Ya! Luna kau datang disaat yang tidak tepat...." Keluh Krystal. Tiba-tiba suara scooter terdengar menjauh.
            "Ya! Minhyuk!" Krystal berteriak memanggil laki-laki itu namun laki-laki itu tak menoleh atau berhenti.
            "Dia siapa? Kau tidak pulang karena pergi dengan laki-laki itu?" Tanya Luna pada Krystal.
            "Tidak! Kau salah paham... Dia laki-laki yang menolongku..." Jawab Krystal.
            "Benarkah...?" Luna meledek Krystal hingga membuatnya tersipu malu.
            "Tapi bagaimana kau tau bahwa aku tidak pulang semalam? Sica Eonni?" Tebak Krystal.
            "Iya, dia mendatangi rumahku dengan Min Ho Oppa..." Jelas Luna.
            "Apa?! Min Ho Oppa?" Jantung krystal tiba-tiba terasa sesak lagi.
            "Sepertinya Min Ho Oppa mencemaskanmu..." Ucap Luna.
            "Tidak, aku benci mereka!" Krystal berjalan meninggalkan Luna.
            "Ya! Kau belum cerita apapun padaku..." Luna mengejar Krystal dengan setengah berlari.
            "Akan aku ceritakan jika aku boleh menginap di rumahmu. Bagaimana?" Pinta Krystal.
            "Hm... Baiklah, tapi apa kau sudah izin pada Sica Eonni?" Tanya Luna.
            "Aku sedang kabur dari rumah, Luna... Bagaimana mungkin aku izin untuk tinggal di rumahmu? Ah satu lagi, jangan beri tau siapapun bahkan Sica Eonni, bagaimana?" Pinta Krystal.
            "Kau harus pulang..." Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menghampiri keduanya.

Who is that?
See u on the next chapter!

follow @annisRprianti_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar