Kamis, 29 Mei 2014

It’s Not Your Fault, It’s My Way To Loving You (CN BLUE feat SNSD) | Chapter 1

It’s Not Your Fault, It’s My Way To Loving You (CN BLUE feat SNSD) #Cerpen iseng NISNIS

22 Juni 2012 pukul 11:49
Tittle in english : It’s Not Your Fault, It’s My Way To Loving You
Judul dalam bahasa indonesia : (Ini bukan salahmu, tapi ini adalah caraku mencintaimu)
Author : Annis Raka Prianti @AnnisPrianti_

sebelumnya, aku mau ucapin happy birthday buat Jung Yong Hwa Oppa (CN BLUE) yang hari ini ulang tahun
cerpen yang terbagi 2 part ini aku bikin sebagai kado ultah buat Yong Hwa Oppa >,

        Malaikat… Kita tidak pernah melihat bentuk nyata seorang malaikat. Apakah dia perempuan atau laki-laki, cantik atau tampan, kita tak pernah mengetahuinya. Tapi benarkah ada Malaikat Tak Bersayap? Malaikat Cinta dan sejenisnya? Aku lebih percaya, ada seseorang yang mempunyai sifat Malaikat.
        Namanya Jung Yong Hwa. Dia adalah mahasiswa jurusan musik di Universitas High Casual. Awalnya aku tak pernah mengenalnya, atau bahkan peduli tentangnya. Aku tak pernah tau kalau dia telah memperhatikanku sejak awal semester satu tahun lalu.  Aku baru mengetahuinya saat kejadian naas itu.
        *****

        Sore itu aku sedang mengungkapkan perasaanku pada Lee Min Hoo, teman satu fakultasku. Aku sudah menyukai Min Hoo sejak awal aku masuk kampus ini. Aku bermaksud akan mengungkapkan perasaanku hari ini seusai kelas.
       “Min Hoo… Apakah kau punya waktu?” Tanyaku gugup.
        “Hmm... Ya? Kenapa Yoona?” Min Hoo tersenyum dan menatapku.
        “Bisa ikuti aku?” Ku tatap wajah tampannya yang terlihat bingung.
        “Hmm… Oke…” Jawabnya yang lagi-lagi dengan senyum.

         Aku pun berjalan kearah taman belakang kampus, dan tentu saja Min Hoo mengikutiku. Setelah sampai, aku pun menuju sebuah pohon dan menatapnya yang muai menghentikan langkah tegapnya tepat dihadapanku.
       “Hm… apa yang ingin kau bicarakan, Yoona? Apakah itu penting?” Alisnya terangkat meninggi, menunjukkan ekspresi bingungnya.
       “Aku… Aku… suka padamu Min Hoo… Aku…” Belum selesai bicara, Min Hoo sudah mencengkram bahuku.
       “Maaf Tiffany, aku tidak bisa…” Ucapnya sambil mengusap pundakku pelan.
        “Tapi aku…” Lagi-lagi Min Hoo mendaratkan jari telunjuknya untuk menghentikan ucapanku.
        “Maaf Tiffany…” Ucap Min Hoo sesaat sebelum akhirnya meninggalkanku.
Min Hoo pun pergi meninggalkanku begitu saja, tanpa mau mendengarkan ucapan dan pernyataanku sampai selesai.
       “Aku tak pernah memintamu membalas perasaan ini… aku hanya ingin mengungkapkan… aku hanya ingin engkau tau… itu cukup…” Ucapku dengan isakan tangis.
        “Tiffany…” Seseorang mengulurkan sapu tangannya dan berdiri tepat dihadapanku.
       “Siapa kau?” Tanyaku ketus sambil menghapus air mataku.
       “Hm… pakailah untuk menghapus air matamu yang berharga… Menyerahlah… Min Hoo bukan yang terbaik untukmu…” Ucap laki-laki asing yang tiba-tiba mencampuri urusanku.
       Aku hanya menatapnya ketus lalu berjalan cepat meninggalkan laki-laki asing itu. Aku terus berjalan sambil menahan tangisku. Aku ingin cepat sampai rumah sebelum air mata ini benar-benar tumpah.
        *****

       “Min Hoo…” Akuberjalan menuju Lee Min Hoo yang berada disudut perpustakaan. Tapi Min Hoo malah berlari dan menghilang.
        “Hufth…” Ku pukul pelan dadaku, agar rasa sesak dan sakit dalam hati ini memudar.
        “Tiffany…” Panggil seorang wanita berparas cantik yang menghampiriku.
       “Ya Jessica?” Aku menoleh kearah Jessica.
       “Kau tau, Yoona sudah pacaran dengan Min Hoo?” Pertanyaan Jessica membuat dadaku terasa sakit. Aku serasa sulit bernafas untuk sesaat.
       “Ahh kabar baik…” Ku paksakan untuk tersenyum didepan Jessica.
       “Ayooo!!” Jessica menarik tanganku untuk ikut berlari bersamanya.
       “Kemana?!” Aku hanya ikut berlari bersamanya.
       “Min Hoo mengadakan sebuah perayaan kecil untuk hubungannya bersama Yoona. Kita tidak boleh ketinggalan bukan?” Jessica menghentikan langkahnya sesaat.
       “Maaf, aku harus mengerjakan tugas. Sampaikan ucapan selamatku pada mereka, Oke?” Aku melepaskan genggaman tangan Jessica dan berlari meninggalkannya.
       Aku terus berlari untuk bersembunyi. Menyembunyikan kesedihanku, juga perasaanku. Bagaimana bisa Yoona, sahabatku sendiri yang menjadi pacar Min Hoo? Aku sudah lama menyukainya. Aku merasa hidupku bagai berada disebuah drama sekarang.
       “Ini…” Seseorang menyerahkan sapu tangan untukku.
       “Apa?! Kau…” Lagi-lagi sosok laki-laki asing itu ada dihadapanku.
        “Bisakah kau tak muncul dihadapanku? Siapa kau? Kau piker bisa menggangguku setiap saat! Enyahlah dari hadapanku! Sekarang!” Bentakku pada laki-laki asing itu.
        “Aku hanya ingin menjadi tembok, tempat kau bersandar saat kau lemah. Ingin menjadi payung saat kau kau kehujanan. Ingin menjadi awan yang menutupi sinar matahari yang menyengatmu. Aku hanya ingin berada disisimu, walaupun kau tidak akan pernah merasakan kehadiranku. Tidak bisakah?” Laki-laki itu terlihat sangat serius.
        “Kau pikir kau siapa? Cih… aku tak suka berbicara dengan orang asing!” Ucapku masih ketus.
       “Aku akan pergi jika kau sudah tidak terlihat menyedihkan seperti ini…  berhentilah bersedih untuknya… kau pantas untuk bahagia..” Ucap laki-laki itu sambil semakin mendekat padaku.
        “Hanya menyerah dan membiarkannya bahagia bersama sahabatmu. Dengan begitu kau bisa mencintai yang baru…” Ucap laki-laki itu sambil menghapuskan air mataku yang sejak tadi mengalir dengan sapu tangannya.
        “Kau pikir hal ini mudah untukku? Kau pikir aku mudah melupakannya? Kau tak merasakan apa yang aku rasakan sekarang, makanya kau bisa dengan mudah mengatakannya!” Bentakku lagi padanya.
        “Aku mengerti yang kau rasakan. Apa yang kau rasakan terhadap Min Hoo adalah apa yang aku rasakan terhadapmu. Tapi kalau cinta it uterus membuatmu bersedih, lepaskanlah. Bukankah cinta itu tidak egois?” Ucpnya lembut.
        “Jadi kau menyukaiku, makanya kau berkata seperti ini? Hey kau yang aku tak kenal, dengarkan ucapanku baik-baik. Aku tidak akan pernah melupakannya. Lebih baik kau yang melupakanku! Kau pikir kalau aku menyerah dengan perasaanku pada Min Hoo, aku akan berpaling padamu?! Cih… very Big Dreams! Jangan harap!” Bentakku sambil meninggalkannya.
        “Aku akan terus menunggu… hingga kau berpaling padaku… aku tidak akan menyerah, karena hanya dengan mencintaimu, itu sudah membuatku bahagia…” Teriaknya padaku yang mulai menjauh.
Aku tak menghiraukannya dan hanya pergi meninggalkannya.
        *****

        Satu semester aku lalui hanya dengan menyendiri. 6 bulan aku menghindar dari Yoona. Aku tau, Yoona pun pasti menyadarinya. Ia pun selalu curiga padaku, yang aku bisa lakukan hanya terus berbohong dan tersenyum dibalik semua kesedihanku.
       “Tiffany…” Seseorang dengan suarayang tidak asing memanggilku dan menepuk bahuku pelan.
       “Min Hoo?” Aku tercekat kaget melihat orang yang tak terduga itu.
       “Bisa bicara sebentar?” Lee Min Hoo menarik tanganku dan membawaku menjauh dari kampus.
Kami berhenti disebuah taman, dan duduk disebuah bangku dekat air mancur.
        “Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” Matanya yang lurus menatapku membuatku tersenyum mengangguk.
       “Aku tidak tau harus memulainya dari mana… Hmm… Ini tentang perasaanmu padaku…” Min Hoo terlihat berpikir serjenak.
        “Apakah kau mulai berpaling padaku? Ah aku tau ini tidak akan mudah untuk Yoona, tapi aku yakin, dengan berjalannya waktu… Yoona akan mengerti tentang kau dan aku…” Ucapku sambil tersenyum menatapnya.
        “Apa maksudmu? Jadi begini… Bisakah kau tidak lagi berteman dengan Yoona? Atau jika kau ingin tetap berteman dengannya, bersikaplah wajar. Jangan membuatnya cemas. Aku tau kau menyukaiku, tapi apa kau akan menunjukkan sikap ini pada Yoona? Kau membuat Yoona tidak nyaman. Aku tidak mau Yoona mengakhiri hubungan ini karna dia tau perasaanmu. Jadi bisakah kau vbuang semua perasaanmu dan bersikap seperti biasa saja? Seperti kau tidak pernah menyukaiku?” Jelas Min Hoo panjang lebar.
      Aku hanya tersenyum dan menjawab “Baiklah… Ini semua untukmu… Aku akan tetap mencintaimu dengan caraku sendiri. Sudah kan? Aku pergi…” Ucapku sambil pergi meninggalkannya.
         Setelah merasa cukup jauh, aku pun berlari sekencang mungkin untuk bersembunyi lagi. Rasa sakit yang aku rasakan sekarang hamper membuatku gila. Kenapa harus Yoona? Sahabatku sendiri? Melupakan Min Hoo sudah cukup sulit untukku, tapi kenapa sekarang penderitaanku harus ditambah untuk menerima keadaan ini? Keadaan dimana kekasihnya adalah sahabatku yang sangat aku sayangi.
         Aku bersandar disebuah pohon yang cukup besar dan tua. Tapi tiba-tiba seorang laki-laki dating menghampiriku. Tidak lain dan tidak bukan, dialah laki-laki asing menyebalkan itu. Seperti biasa, dia selalu datang saat aku menangis.
        “Apakah kau ingin aku menganggapmu pahlawan-ku hanya karena kau datang disaat aku seperti ini?!” Bentakku padanya yang malah duduk disebelahku.
        “Menangislah, jika itu bisa menenangkan hatimu…” Ucapnya sambil mulai memetik gitar.
        “Hei! Kau pikir aku akan luluh jika kau bermain gitar? Cih.. pemikiran yang dangkal!” Benttaku kasar.
Laki-laki itu hanya tersenyum dan malah mulai memetik gitarnya kembali.
Sarangeun cham nae mameul moreujyo…
Sesangeun cham nae mameul moreujyo…
Saranghaneun sarami isseoyo…
Geunde geu sarameun, nae mamdomollayo…
Jigeum i sungan… geu saram neorangeol…

Iroen motnan sarang…
Ijeya ijeya…
Nae mameul arannayo neukkyeonnayo…
Neol wihan I mam…
Ireon motnan sarang…
Ijeya ijeya…
Nae mameul arannayo neukkyeonnayo geudae ~
Jebal nae nuneul na mameul budi kkok itji marayo…

Saramdeureun… geudareul moreujyo…
Areumdaun… geu mameul moreujyo…
Ibyeorui apeum, anin cheogeul hajyo…
Tteonan geu sarameul geuriwohanayo…
Arko innayo nan geudael boneunde…

Iroen motnan sarang…
Ijeya ijeya…
Nae mameul arannayo neukkyeonnayo…
Neol wihan I mam…
Ireon motnan sarang…
Ijeya ijeya…
Nae mameul arannayo neukkyeonnayo geudae ~
Jebal nae nuneul na mameul budi kkok itji marayo…

Geudae sarangmani nae apeun mameul…
Modu itge haneun salge haneun iyuyeonneunde…

Neomu saranghaeyo…
Ijeneun Ijeneun…
Nae mameul arannayo neukkyeonnayo neol wihan I mam..
Ireon motnan sarang…
Ijeya ijeya…
Nae mameul arannayo neukkyeonnayo geudae ~
Nal ijeoyo nal ijeoyo budi annyeong seulpeun saranga…

(Sad Love – No Min Wo)

Air mataku semakin deras mengalir. Laki-laki itu meletakkan gitarnya, lalu menghapuskan ir mataku yang sejak tadi mengalir tanpa henti.
        “Ayo, aku antar pulang…” Ucapnya sambil berdiri dan mengulurkan tangannya.
Aku hanya mengangguk dan meraih tangannya. Hari ini aku pun pulang bersama laki-laki yang sudah tak asing ini. Dalam hatiku pun berkata “Annyeong Seulpeun Saranga” (Goodbye Sad Love/Selamat tinggal cinta yang menyedihkan).
        *****

        Hari ini ulang tahun No Min Woo, aku sudah mempersiapkan sebuah hadiah ulang tahun untuknya. Aku menyiapkan sebuah jam tangan yang aku beli di toko jam dekat kampus. Saat akan menghampirinya, dan Min Hoo benar-benar sudah ada dihadapanku, tiba-tiba Yoona datang.
        “Tiffany? Kau…” Yoona menatapku curiga.
        “Ah dia hanya ingin mengembalikan buku milikku yang ia pinjam, benar kan?” Ucap Lee Min Hoo sembarangan.
        “Ahh iya… aku akan mengembalikannya nanti saja… aku masuk kelas duluan ya…” Aku pun berlari masuk kedalam kelas.
        Baru sesaat aku duduk di kursiku, aku langsung kembali berdiri lalu berlari meninggalkan kelas. Aku berlari menuju tempatdimana aku bisa menyendiri.
        Aku masuk disebuah ruang praktek musik,dan menuju sebuah piano yang tersedia diruangan praktek ini. Aku mulai menjalankan jemari lentikku diatas piano dan mulai menyanyi.  Tentu saja diringi dengan lirnangan air mata yang seakan tak pernah bisa berhenti mengalir tiap saat aku menangis.
Mianhadan mal, haji marayo…
Naege sarangeun kkeutianinde..
Ireohke uri… Heyeojindamyeon…
Eotteokhaeyo… eotteokhaeyo…

Sarang hana ppuninde…
Saranghal su eoptko…
Cheomcheom meoreojyeoganeun… sarangijigiji mothal…
Maldeurinal… ulke haneyo…

Komapdaneun mal,haji marayo…
Nae modeun sarang, jugo shipeunde…
Ireohke uri… Nami dwehndamyeon…
Eotteokhaeyo… eotteokhaeyo…

Sarang hana ppuninde…
Saranghalsu eoptko…
Cheomcheom meoreojyeoganeun… sarangijigiji mothal…
Maldeurinal… ulke haneyo…

Saranghaeyo… Saranghaeseo… Eotteokhaeyo…
Apeun sarangirado kwaehnchanha ~
Jiwodo jiulsu eomneun… geudaenikka ~
Seulpeun unmyeonggirado… Keudareul bonaelsu eopseo… Saranghaeyo…
Geudaenikkayo…
Naegen geudaenikkayo…

(Tiffany SNSD – Because It’s You)

Aku menghela napas panjang sesaat lalu menghapus air mataku. Tapi tiba-tiba sebuah sapu tangan mendarat dipipiku. Jemari lentik seseorang menyentuh lembut pipiku. Aku melirik kearah pemilik tangan itu, dan ternyata jemari lentik itu milik laki-laki asing yang selalu mengangguku.
        “Bisakah sehari saja kau tidak menggangguku?” Bentakku padanya.
Laki-laki itu hanya tersenyum dan malah duduk disampingku. Jemarinya mulai mendarat dipiano yang kini ada dihadapan kami berdua. Laki-laki asing itu mulai memainkan piano dan menyanyikan sebuah lagu.

Manheun manname seollegido haetjyo…
Manheun ibyeore nunmuldo heullyeotjyo…
Hangsang kkeuchi itdago nanmideotjyo…

Maeume eomneun mallo neol ulligo…
Babocheoreom neol dachige haetjiman…
Ijeya arasseo niga eobsi nan andoendaneungeol…
Geurol jagyeokdo eomneun nagetjiman…

Geudael saranghaedo doenayo…
Na geudael anabwado doenayo…
Nae modeungeol jwodo akkapji anchyo…
Sarangirangeo… Na cheoeum aratjyo…
Na jashinboda saranghal saram geudaenikka…

Ijen geudae irko sipji anhayo…
Ijen dareun sarang motalgeot gata…
Geudongan apahamyeo honja heullin manheun nunmureun…
Geudael mannagi wihan yeonseubijyo…

Geudael saranghaedo doenayo…
Na geudael anabwado doenayo…
Nae modeungeol jwodo akkapji anchyo…
Sarangirangeo… Na cheoeum aratjyo…
Na jashinboda saranghal saram geudaenikka…

Geudael saranghago sipeoyo..
Na geudael anabogo sipeoyo…
Geudael mannago dasi taeeonatjyo…
Sarmi himdeulgo… sesangi sogyeodo…
Naega geudareul jikyeojulgeyo… saranghaeyo…

 (No Min Wo – Can I Love You)

Setelah selesai menyanyi, laki-laki asing itu menatapku dan tersenyum pedih.
       “Jangan pernah menangis lagi… Hatiku selalu sakit tiap saat mendengar isak tangismu… Pedih rasanya melihat orang yang aku sayangi tersiksa…” Ucapnya sambil membelai pipiku.
       “Lancang sekali kau berani menyentuhku!” Aku beranjak dari dudukku dan meninggalkannya.
Aku berjalan cepat dengan perasaan yang sangat kesal. Kenapa dia selalu ada disaat seakan aku membutuhkannya? Menyebalkan!
       “Siapa dia berani-beraninya menyentuh pipiku!” Gerutuku sambil berjalan keluar ruang praktek.
Saat aku sedang berjalan, aku melihat Lee Min Hoo yang sedang membetulkan tli sepatu ketsnya, dan dari arah berlawanan ada sebuah Trukl pengangkut barang menujunya.
        “Ini bahaya!” Aku berlari untuk mendorong tubuh Min Hoo agar ia tidak tertabrak Truk itu.
Aku berlari dan mendorongnya… tubuhku pun serasa terbang oleh angin yang seperti berhembus kencang tak wajar…

*DUGGHHHH!!!!*

Nah loh suara apatuhh??
Siapa yang ketabrak?
Bagus gak cerpen barunya?
Aneh ya? Jelek yah?
Aaaa koment dongse :D
NISNIS@annisRprianti_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar